Þ Profit Taking! Dow -1.8%, S&P 500 -2.2%.
Company Focus
Þ TLKM: 1Q09 result Lower-than-expected
Þ BBCA: Good to See but Still at Premium
News Highlight
Economic News
Þ Commodity : Harga CPO Terangkat Penipisan Stok
Þ Economic: Miranda Diganti Darmin
Þ Economic : Harga SUN Capai Level Tertinggi Setahun
Corporate News
Þ INDY: Akan Tambah Produksi Batubara 12,86% di 2010
Þ WIKA: Dapat Kontrak Rp 2,7 T
Þ DGIK : Duta Graha segera Rampungkan Proyek 1.6T
Þ JSMR : Jasa Marga bagi Dividen Rp 36
Þ TLKM : Negoisasi Kredit $140 Juta
Þ UNSP: Rugi Rp 129,96 M
Þ DAVO : Gagal Bayar Bunga Obligasi
Rumours
Þ Penguatan saham Barito Pacific dan Sumalindo akan diikuti oleh kenaikkan saham PT Tirta Mahakam Resources (TIRT). Menurut sumber, rencana perusahaan menekuni usaha pertambangan dengan menyinergikan beberapa anak usahanya akan menjadi momentum kenaikkan harga TIRT ke level Rp 75-85 dalam jangka pendek. (Investor/dki)
Þ Avenue Capital dikabarkan akan meningkatkan kepemilikan sahamnya pada Bakrieland Development. Menurut sumber, perusahaan itu mengajukan penawaran pada harga Rp 285-300 per saham pada pekan ini. (Investor/dki)
Corporate Action
Þ Ex-dividen ITMG
Þ Cum-date Dividend POOL Rp800
Technical Picks
Þ IHSG (1830.7) – Sentiment Says Down! But How Low..?
Þ INCO (Rp 3.850) – SELL
Þ ISAT (Rp 5.150) – Buy on Weakness
Þ UNSP (Rp 830) – SELL
Download Full Report Technical Shot
Market Flash
Tidak ada pohon yang tumbuh kelangit. Ini adalah istilah untuk index kita saat ini. Konsolidasi sangat di butuhkan mengingat valuasi yang sudah cukup tinggi. Sesuatu hal yang saya yakin market kita lebih baik dan dinilai lebih tinggi yaitu, nilai transaksi jauh di atas rata-rata tahun 2007-8 (Rp4-5tn vs Rp5-8tn), Suku bunga/BI rate terendah sejak tahun 2005 yaitu 7,5% ,Inflasi yang sangat rendah sekitar 7%, Rupiah yang cenderung menembus level di bawah Rp10ribu dan paling stabil nya politik di tahun ini sejak 1997. Untuk ini saya melihat Indonesia seharusnya di nilai dengan valuasi yang lebih tinggi dari negara lain.
Hari ini harga base metal terutama Copper yang menurut saya sebagai leader di konter base metal, turun 3% menjadi USD4,565/ton di balik spekulasi import china akan turun akibat permintaan. Perhatikan profit taking untuk saham INCO, ANTM, dan TINS.
Dow Jones: Bursa US terkoreksi setelah menyentuh level tertinggi dalam 4 bulan terakhir dan indeks S&P 500 diperdagangkan pada level termahal sejak 7 bulan terakhir. Harga SUN kembali naik untuk 2 hari ini dan US$ menguat terhadap mata uang lainnya. Indeks Dow -1.8% ke level 8414.7 sementara S&P 500 anjlok 2.2% ke level 909.2.
Capital One Financial Corp., U.S. Bancorp dan BB&T Corp turun lebih dari -7,5% setelah berencana melepas sahamnya untuk membayar dana bail-out pemerintah. American Express Co. and JPMorgan Chase & Co. terkoreksi -8% setelah mengalami profit taking dan General Motors Corp. anjlok -11% setelah menyatakan
kemungkinan kebangkrutan semakin kuat.
Regional Pagi ini: Nikkei 225 (+0,7%) 9.498,71, Topix (+1,2%) 905,92. Saham Tokyo menguat, dengan Mizuho Trust & Banking (+5,5%). Namun produsen mobil melemah, termasuk Toyota Motor Corp. (-2,8%) setelah mencatat kerugian lebih besar dari estimasi. S&P/ASX 200 (+0,1%) 3.946,10. Kospi (+0,1%) 1.413,57.
Commodity: Gold (+0.10%) $914/oz, Light Crude Oil (-0.2%) $58.4/barrel, Natural Gas (+0.9%) $4.34/mmbtu, CPO (-0.4%) 2.740 RMY, Nickel (-3.62%) $12.770/ton, Tin (-3.7%) $ 13.800/ton.
Suryadi@etrading.co.id, Research Team
TLKM: 1Q09 result Lower-than-expected
Profit -23.4% YoY in 1Q09, Forex and Interest Expenses rose
Laba TLKM 1Q09 turun 23% menjadi Rp2,4tn atau hanya berkisar 19% dari total prediksi kita tahun 2009. Kerugian Forex sebesar Rp212 miliar dan beban bunga meningkat menjadi Rp517 miliar. TLKM menambah pinjam sindikasi dari bank sebesar Rp2,4tn sehingga total utang bank sampai 1Q09 adalah Rp6,3tn.
Cellular Growth offset by Fixed-line and SMS, Revenue -2%
Pendapatan 1Q09 juga turun 2,2% atau 22% dari eT09. Pertumbuhan pendapatan cellular dikalahkan oleh penurunan pendapatan dari Fixed lines and Sms. MoU naik 60% YoY dan Pelanggan +40% sehingga laba dari cellular naik 9% menjadi Rp6,5tn.
Valuation: Initiate BUY recommendation with TP: Rp8,400
Kita melihat margin TLKM in-line dengan prediksi kita dan perdapatan yang bisa mencapai target kita. Rekomendasi kita BUY untuk saham TLKM dengan perhitungan DCF sebesar Rp8,400 sebagai TP. Saat ini TLKM di perdagangkan pada PER 11,4x F09 dan PBV 3,5x F09 dan EV/EBITDA 3,9x F09 ini terlihat murah apabila dibandingkan dengan market maupun perusahaan telco di Negara lain.
BBCA: Good to See but Still at Premium
Declining Assets Quality but Still Manageable
Seperti yang diduga sebelumnya, NPL melonjak menjadi 1.6% dari total kredit dari sebelumnya 0.6% di 4Q08 yang kami lihat beberapa diantaranya berasal dari kredit macet CMS (Citra Margatama Surabaya), Rp475 bn dan juga dari gagal bayar obligasi FREN senilai Rp100 bn. Kenaikan NPL serta lambatnya pertumbuhan kredit di 1Q09 membuat coverage ratio secara teknikal turun menjadi 192.2%. Kami melihat pertumbuhan kredit yang melambat di 1Q09 disebabkan faktor siklikal, kredit korporasi dan komersial turun masing-masing -2% dan -9% sementara kredit konsumsi +0.3% QoQ diuntungkan dari pemotongan bunga KPR. Namun kami yakin, dengan outlook yang lebih baik pada ekspor dan apresiasi rupiah, target pertumbuhan kredit 15% tahun ini dapat tercapai pada saat sektor riil mulai melakukan penarikan pinjaman didukung oleh tren penurunan suku bunga kredit sehingga berimplikasi pada target NPL yang lebih rendah yakni 1.3% dengan 209.0% coverage ratio di FY08.
1Q09 Results Inline at Slow Start
Laba bersih BBCA di 1Q09 inline dengan estimasi kami, mencakup 26% dari full year target. Laba bersih tumbuh dengan start yang lambat di 1Q09 -8% QoQ, Rp 1.63 tn dibanding dengan 1Q08 +2% namun masih outperfoming industri secara keseluruhan yang mencatat pertumbuhan negatif 66% QoQ. Sementara itu akibat 73.4% obligasi BBCA sensitif terhadap pergerakan suku bunga, BBCA mencatat kerugian pada pendapatan obligasi dengan valuasi marked-to-market sebesar Rp2 bn setelah sebelumnya mencatat laba Rp11 bn di 4Q08 (AFS: 27% dari total obligasi). Fee based income sedikit turun -0.6% QoQ disebabkan turunnya DPK pada tabungan dan giro masing-masing 13% QoQ dan 2% QoQ.
NIM Would Drop Slightly From Current Level but Still in Uptrend
NIM tumbuh ke level 7.1%, tertinggi sejak 4Q06. Cost of fund tetap stabil di level 3.64% sementara yield on assets naik ke 10.85% disebakan penyesuaian bunga kredit mengalami lagging atas pricing di bunga deposito. Penurunan BI rate berimplikasi negatif terhadap earnings assets BBCA sehingga kedepan NIM kami prediksi akan turun ke 6.9% di FY09 untuk mempertahankan tingkat likuiditas disebabkan DPK secara total turun 3%QoQ
Valuation: Upgrade TP from Rp3,350 to Rp3,800, BUY
Berdasarkan valuasi P/BV, BBCA saat ini masih ditransaksikan premium dibanding saham perbankan lain yang menjelaskan 3% return ytd dibanding 30% return BBRI dan 55% return BMRI. Namun dengan penurunan yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun dari 11.8% ke 11.5%, kami meng-upgrade TP dari Rp3,350 ke Rp3,800 berdasarkan metodologi Gordon Growth menggunakan 0.81 assets beta, dan 4.5% market premium. Dengan tren NIM yang lebih baik, ROE serta posisi CAR yang kuat di 15%, kami merubah rekomendasi kami dari HOLD menjadi BUY, new TP Rp.3,800.
Economic news
Commodity : Harga CPO Terangkat Penipisan Stok
Isu penurunan cadangan CPO menjadi pendongkrak harga komoditas CPO hingga ke level tertinggi RMY2.745/ton ($784) dalam sepekan terakhir di Bursa Komoditas Malaysia. Jumlah cadangan CPO tercatat berada dalam level terendah sejak Juni 2007 yaitu turun 5.4% di bulan April menjadi 1.29 juta ton. Volume produksi masih naik 0,8% menjadi 1,29 juta ton. (bisnis/abp)
Economic: Miranda Diganti Darmin
Komisi XI DPR mengangkat Darmin Nasution sebagai Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, menggantikan Miranda Swaray Goeltom. Darmin dinilai layak karena mendukung pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dukungan yang di dapat adalah dari 10 fraksi di DPR. (kompas/nz)
Economic : Harga SUN Capai Level Tertinggi Setahun
Harga SUN bertenor 1-5 tahun mencapai level tertinggi sejak setahun lalu seiring membaiknya ekspektasi pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi dan pasar modal. Berikut adalah harga terakhir beberapa SUN:
FR0033 (4 thn) = 107.53%
FR0020 (4 thn) = 114.06%
FR0026 (3 thn) = 102.35%
(bisnis/abp)
Corporate news
INDY: Akan Tambah Produksi Batubara 12,86% di 2010
INDY berencana menambah produksi batubara pada 2010 dengan pertumbuhan sebesar 12,86%. INDY berencana memproduksi sebanyak 28 juta ton pada 2010, yang naik dari target tahun ini sebesar 24,85 juta ton. penambahan produksi berasal dari Kideco dan Petrosa. (jakartapost/nz)
WIKA: Dapat Kontrak Rp 2,7 T
WIKA telah mendapatkan 29% dari total target 2009 untuk kontrak baru sebesar Rp 2,7 triliun (US$ 259,9 juta) untuk kontrak infrastruktur domestik. Hingga saat ini, total kontrak yang didapatkan mencapai Rp 10,5 triliun. (jakartapost/nz)
DGIK : Duta Graha segera Rampungkan Proyek 1.6T
PT Duta Graha Indah akan menyelesaikan proyek senilai Rp 1.62 triliun sepanjang tahun ini. Perusahaan juga menargetkan pengerjaan sebanyak 30-40 proyek. Proyek itu diantaranya, pembangunan Natuna Gerbang Utara senilai Rp 345.51 miliar pada 29 Juni 2009,Pembangunan hotel Labersa senilai Rp 221.25, danpembangunan gedung kantor bupati Timika senilai Rp 222.15 miliar. (Investor/dki)
JSMR : Jasa Marga bagi Dividen Rp 36
Jasa Marga akan mengusulkan pembagian dividen tahun buku 2008 sekitar Rp 36/saham atau 35% dari total laba bersih sebesar Rp 707.79 miliar. Total saham JSMR saat ini berjumlah 6.8 miliar lembar. (Investor/dki)
TLKM : Negoisasi Kredit $140 Juta
TLKM sedang menegosiasikan kredit senilai $140 juta dengan lembaga keuangan dan dijadwalkan terealisasi pada akhir tahun ini. Kredit ini akan diginakan untuk belanja modal perseroan sebesar $2.1 miliar tahun ini. 40% dari belanja modal ini akan digunakan untuk infrastruktur IT khususnya jasa satelit, 35% untuk akses broadband dan layanan baru serta 22% lainnya untuk memperkuat infrastruktur. (bisnis/abp)
UNSP: Rugi Rp 129,96 M
UNSP pada 1Q09 merugi Rp 129,96 miliar yang mendapatkan laba Rp 165,04 miliar pada 1Q08. Salah satu penyebabnya adalah kerugian kurs yang dialami UNSP. Kerugian kurs sebesar Rp 140,97 miliar dan pada 1Q08 mengalamu keuntungan kurs Rp 30,77 miliar. (kontan/nz)
DAVO : Gagal Bayar Bunga Obligasi
DAVO tidak sanggup membayar bunga obligasi senilai $13.09 juta (Rp136.1 miliar) yang jatuh tempo pada 8 Mei karena anjloknya kas dan memburuknya kinerja keuangan. Total obligasi tersebut senilai $238 juta dengan kupon 11% dan jatuh tempo pada Mei 2011. Peringkat obligasi dari Moody's dipangkas dari B2 menjadi Caa1 dengan prospek negatif. (bisnis/abp)
No comments:
Post a Comment