ISAT Akan Coba Menguat, MACD
Bentuk Golden Cross
Saham PT Indosat (ISAT) dalam jangka
pendek secara teknikal berpotensi untuk
bullish. Pasalnya indikator MACD saham
ISAT saat ini baru saja membentuk golden
cross sehingga berpotensi untuk melakukan
bullish dalam jangka pendek. Support saham
ISAT Rp 5700 dan Resistance di Rp 6700.
Selain itu sentiment positif membaiknya
perekonomian AS dan juga turunnya kembali
harga minyak akan menjadi sentiment positif
untuk mengangkat saham ISAT hari ini.
Selain itu kinerja perseroan yang diatas
ekspektasi pada semester 1 juga akan
menjadi tambahan sentiment positif saham
ISAT hari ini.
ISAT kemarin mengumumkan bahwa pada
semester 1 ini, perseroan berhasil
membukukan laba bersih sebesar Rp 1,055
Trilyun atau naik 24,9% bila dibandingkan
semester 1 2007 yang sebesar Rp 845,1
Milyar. Kenaikan ini ditunjang oleh
keberhasilan perseroan meningkatkan
pendapatan pada semester 1 ini. Hal ini
berarti melawan ekspektasi pelemahan
kinerja ISAT akibat persaingan yang semakin
ketat dan perlambatan ekonomi.
Rekomendasi: Buy
Support Rp 5700
Resistance Rp 6700
Thursday, August 28, 2008
market today
likuiditas perdagangan (Rp2,6 triliun) disertai dengan penguatan
pada sektor batubara dan perkebunan. Indeks berhasil ditutup di
teritori positif (+0,6%) di level 2144,8. Penguatan indeks
kemarin lebih ditopang oleh reboundnya harga minyak dunia dan
beberapa komoditas energy-related lainnya.
Bursa US sendiri semalam kembali menguat signifikan
seiring dirilisnya data GDP 2Q08 yang mencapai 3,3% (cons.
2,7%), ditambah data pengangguran yang lebih baik dari
ekspektasi pasar. Terkoreksinya harga minyak dunia (US$115,6)
juga memberi tambahan tenaga bagi indeks Dow untuk menguat
1,85%. Seluruh bursa Asia pada perdagangan hari ini dibuka
menguat dengan kisaran 1-1,5% terkait terkoreksinya harga
minyak dan membaiknya perekonomian makro US.
Bursa Indonesia hari ini masih memiliki potensi
penguatan pada saham-saham sektor banking dan consumer,
dan beberapa emiten yang hari ini mengeluarkan better-thenexpected
results 1H08 seperti TINS, ISAT dan INDF (kecuali
ANTM). Sementara sektor Energy dan CPO diperkirakan akan
mengalami koreksi seiring potensi profit taking yang cukup besar.
Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2125 –
2170.
Daily Content
Company Review:
• Gigantic new subcriber in 2Q2008
News Highlights :
• INDF: Laba 6M08 melejt 125%.
• BSDE: Laba 1H08 naik 191,5%
• TINS: Penjualan stagnant laba naik 42%
• ANTM: Laba 6M08 tergerus 49% YoY
• Economic: Pemerintah Potensi Kehilangan $75 milliar
(Bisnis)
• Economy : Mall dan PLN Sepakati Penghematan Listrik
(Jakarta Post)
• BBIA: bentuk bank induk di Indonesia (Investor)
• BBRI: Januari-Juni, 95% target kredit tercapai (Investor)
Technical Picks :
• AKRA (Rp 1.230) – Sell on Strength
• BBCA (Rp 3.100) - HOLD
• INDF (Rp 2.090) - BUY
• ITMG (Rp 27.350) – Sell on Strengt
pada sektor batubara dan perkebunan. Indeks berhasil ditutup di
teritori positif (+0,6%) di level 2144,8. Penguatan indeks
kemarin lebih ditopang oleh reboundnya harga minyak dunia dan
beberapa komoditas energy-related lainnya.
Bursa US sendiri semalam kembali menguat signifikan
seiring dirilisnya data GDP 2Q08 yang mencapai 3,3% (cons.
2,7%), ditambah data pengangguran yang lebih baik dari
ekspektasi pasar. Terkoreksinya harga minyak dunia (US$115,6)
juga memberi tambahan tenaga bagi indeks Dow untuk menguat
1,85%. Seluruh bursa Asia pada perdagangan hari ini dibuka
menguat dengan kisaran 1-1,5% terkait terkoreksinya harga
minyak dan membaiknya perekonomian makro US.
Bursa Indonesia hari ini masih memiliki potensi
penguatan pada saham-saham sektor banking dan consumer,
dan beberapa emiten yang hari ini mengeluarkan better-thenexpected
results 1H08 seperti TINS, ISAT dan INDF (kecuali
ANTM). Sementara sektor Energy dan CPO diperkirakan akan
mengalami koreksi seiring potensi profit taking yang cukup besar.
Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2125 –
2170.
Daily Content
Company Review:
• Gigantic new subcriber in 2Q2008
News Highlights :
• INDF: Laba 6M08 melejt 125%.
• BSDE: Laba 1H08 naik 191,5%
• TINS: Penjualan stagnant laba naik 42%
• ANTM: Laba 6M08 tergerus 49% YoY
• Economic: Pemerintah Potensi Kehilangan $75 milliar
(Bisnis)
• Economy : Mall dan PLN Sepakati Penghematan Listrik
(Jakarta Post)
• BBIA: bentuk bank induk di Indonesia (Investor)
• BBRI: Januari-Juni, 95% target kredit tercapai (Investor)
Technical Picks :
• AKRA (Rp 1.230) – Sell on Strength
• BBCA (Rp 3.100) - HOLD
• INDF (Rp 2.090) - BUY
• ITMG (Rp 27.350) – Sell on Strengt
INDF Melesat Naik 6,63%
Saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF)
bergerak naik pesat pada perdagangan
kemarin (28/8). Saham INDF kemarin
berhasil naik 6,63% atau naik Rp 130 dan
ditutup pada level harga Rp 2090. Naiknya
saham INDF ini lantaran rencana aksi
perseroan yang akan mengakuisisi Indomilk
disambut positif oleh pasar. INDF pada
selasa lalu (26/8) mengumumkan bahwa
perseroan tertarik untuk mengakuisisi 100%
saham Drayton Pte yang merupakan bapak
usaha darai PT Indolakto produsen dari
produk susu bermerek Indomilk, Cap Enaak,
Tiga Sapi, Orchid Butter dan Indoeskrim.
Rekomendasi :Buy
Support Rp 1850
Resistance Rp 2300
BUMI Naik 2,80% Pasca Naiknya Harga
Minyak
Emiten batubara, PT Bumi Resources
(BUMI) pada perdagangan kemarin (28/8)
bergerak cukup impresif. Saham BUMI
berhasil naik Rp 150 atau naik 2,80% dan
ditutup pada level harga Rp 5500. Naiknya
saham BUMI ini akibat kembali naiknya
harga minyak kemarin membuat investor
kembali memburu saham BUMI. Namun
pada perdagangan hari ini (29/8) saham
BUMI berpotensi melemah akbat aksi profit
taking investor. Hal ini karena harga minyak
yang semalam tampak melemah di level US$
115 per barel akan menjadi sentimen negatif
bagi saham BUMI dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 4900
Resistance Rp 6300
Saham PT Indofood Sukses Makmur (INDF)
bergerak naik pesat pada perdagangan
kemarin (28/8). Saham INDF kemarin
berhasil naik 6,63% atau naik Rp 130 dan
ditutup pada level harga Rp 2090. Naiknya
saham INDF ini lantaran rencana aksi
perseroan yang akan mengakuisisi Indomilk
disambut positif oleh pasar. INDF pada
selasa lalu (26/8) mengumumkan bahwa
perseroan tertarik untuk mengakuisisi 100%
saham Drayton Pte yang merupakan bapak
usaha darai PT Indolakto produsen dari
produk susu bermerek Indomilk, Cap Enaak,
Tiga Sapi, Orchid Butter dan Indoeskrim.
Rekomendasi :Buy
Support Rp 1850
Resistance Rp 2300
BUMI Naik 2,80% Pasca Naiknya Harga
Minyak
Emiten batubara, PT Bumi Resources
(BUMI) pada perdagangan kemarin (28/8)
bergerak cukup impresif. Saham BUMI
berhasil naik Rp 150 atau naik 2,80% dan
ditutup pada level harga Rp 5500. Naiknya
saham BUMI ini akibat kembali naiknya
harga minyak kemarin membuat investor
kembali memburu saham BUMI. Namun
pada perdagangan hari ini (29/8) saham
BUMI berpotensi melemah akbat aksi profit
taking investor. Hal ini karena harga minyak
yang semalam tampak melemah di level US$
115 per barel akan menjadi sentimen negatif
bagi saham BUMI dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 4900
Resistance Rp 6300
Wednesday, August 27, 2008
Market
Review : IHSG Naik 1,17% , Saham Tambang Melesat
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup bullish. IHSG berhasil naik
23,515 poin atau naik 1,12% dan ditutup pada level 2131,063. Indeks
saham unggulan LQ45 juga berhasil naik 5,099 poin atau naik 1,17%
dan ditutup pada level 440,532.
Naiknya bursa didorong oleh naiknya kembali saham – saham tambang
setelah harga minyak semalam berhasil naik. Saham United Tractor
(UNTR) berhasil naik 6,31% jadi Rp 10.950, Medco (MEDC) naik
3,39% jadi Rp 4575, Indo Tambang (ITMG) naik 2,53% jadi Rp 26.300
dan Bumi Resources (BUMI) naik 1,90% jadi Rp 5350.
Data Makro Membaik , Wall Street Naik.
Bursa Wall Street pada perdagangan semalam ditutup menguat dipicu
oleh data permintaan durable goods yang memuaskan. Sementara itu,
saham finansial juga masih mengalami rally seiring dengan sentimen
positif dari Fannie Mae dan Freddie Mac. Permintaan durable goods
untuk bulan Juli tercatat naik 1.3%, melampaui ekspektasi pasar yang
memperkirakan akan melemah sebanyak 0.4%. Saham Boeing
mencatatkan kenaikan 1.67% setelah rilis data permintaan durable
goods.
IHSG Akan Lanjutkan Kenaikan, Dorongan Saham Komoditas
IHSG pada perdagangan hari ini (28/8) diperkirakan akan mencoba
melanjutkan kenaikan. Hal ini karena didorong oleh naiknya bursa AS
semalam dan sebagian besar bursa regional pada pagi ini akan menjadi
sentimen positif bagi IHSG. Selain itu data makroekonomi AS yang
membaik juga akan ikut menjadi sentimen positif pada hari ini.
Saham – saham berbasis komoditas diperkirakan akan naik pasca
kembali naiknya harga komoditas semalam dipimpin oleh minyak yang
naik ke level US% 118 per barel akibat Badai Gustav. Selain itu posisi
sebagian besar saham – saham komoditas saat ini yang sebagian besar
berada di bootom secara teknikal meningkatkan probabilitas kenaikan
saham – saham komoditas pada hari ini.
Sementara itu saham perbankan pada hari ini diperkirakan akan berjalan
mixed menyususl adanya dua sentimen sekaligus. Sentimen positif dari
naiknya saham perbankan di AS semalam sedangkan sentimen negatif
berasal dari naiknya harga minyak.
Saham –saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham
AALI, BUMI, ITMG, MEDC, PTBA, ANTM, INCO, TINS, PGAS,
SGRO, LSIP, dan TBLA
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup bullish. IHSG berhasil naik
23,515 poin atau naik 1,12% dan ditutup pada level 2131,063. Indeks
saham unggulan LQ45 juga berhasil naik 5,099 poin atau naik 1,17%
dan ditutup pada level 440,532.
Naiknya bursa didorong oleh naiknya kembali saham – saham tambang
setelah harga minyak semalam berhasil naik. Saham United Tractor
(UNTR) berhasil naik 6,31% jadi Rp 10.950, Medco (MEDC) naik
3,39% jadi Rp 4575, Indo Tambang (ITMG) naik 2,53% jadi Rp 26.300
dan Bumi Resources (BUMI) naik 1,90% jadi Rp 5350.
Data Makro Membaik , Wall Street Naik.
Bursa Wall Street pada perdagangan semalam ditutup menguat dipicu
oleh data permintaan durable goods yang memuaskan. Sementara itu,
saham finansial juga masih mengalami rally seiring dengan sentimen
positif dari Fannie Mae dan Freddie Mac. Permintaan durable goods
untuk bulan Juli tercatat naik 1.3%, melampaui ekspektasi pasar yang
memperkirakan akan melemah sebanyak 0.4%. Saham Boeing
mencatatkan kenaikan 1.67% setelah rilis data permintaan durable
goods.
IHSG Akan Lanjutkan Kenaikan, Dorongan Saham Komoditas
IHSG pada perdagangan hari ini (28/8) diperkirakan akan mencoba
melanjutkan kenaikan. Hal ini karena didorong oleh naiknya bursa AS
semalam dan sebagian besar bursa regional pada pagi ini akan menjadi
sentimen positif bagi IHSG. Selain itu data makroekonomi AS yang
membaik juga akan ikut menjadi sentimen positif pada hari ini.
Saham – saham berbasis komoditas diperkirakan akan naik pasca
kembali naiknya harga komoditas semalam dipimpin oleh minyak yang
naik ke level US% 118 per barel akibat Badai Gustav. Selain itu posisi
sebagian besar saham – saham komoditas saat ini yang sebagian besar
berada di bootom secara teknikal meningkatkan probabilitas kenaikan
saham – saham komoditas pada hari ini.
Sementara itu saham perbankan pada hari ini diperkirakan akan berjalan
mixed menyususl adanya dua sentimen sekaligus. Sentimen positif dari
naiknya saham perbankan di AS semalam sedangkan sentimen negatif
berasal dari naiknya harga minyak.
Saham –saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham
AALI, BUMI, ITMG, MEDC, PTBA, ANTM, INCO, TINS, PGAS,
SGRO, LSIP, dan TBLA
Gozco Akan Ekspansi 80 Ribu Lahan
Baru
Emiten perkebunan, PT Gozco Plantation
(GZCO) mengumumkan bahwa dalam 2
tahun kedepan perseroan akan melakukan
ekspansi lahan seluas 80 ribu Hektare. Nilai
akuisisi tersebut diperkirakan akan mencapai
Rp 5,76 Trilyun. Dimana pembiayaannya
akan berasal dari kas internal hasil IPO
sebesar Rp 500 Milyar dan sisanya sebanyak
Rp 5,26 Trilyun akan berasal dari pinjaman
perbankan yang akan dilakukan bertahap.
Pada perdagangan hari ini (28/8) saham
GZCO diperkirakan akan mencoba menguat.
Pasalnya kemarin harga CPO naik di bursa
berjangka Malaysia sehingga akan menjadi
sentimen positif bagi saham GZCO.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 166
Resistance Rp 235
Nikel Naik , ANTM Berpotensi Rebound
Harga komoditas nikel berdasarkan data
Bloomberg menunjukkan kenaikan sebesar
4,77% dan berada pada level US$ 20.960 per
MT. Hal ini tentunya akan menjadi sentiment
positif bagi saham emiten nikel seperti saham
PT Aneka Tambang (ANTM) yang selama
ini terbenam akibat anjloknya harga nikel.
Secara teknikal saham ANTM saat ini berada
di area bottom di sekitar Rp 1800-1900
sehingga berpotensi untuk naik dalam jangka
pendek. Selain itu indikator RSI (Relative
Strength Index ) saham ANTM saat ini
berada di level 30,92 atau sudah mendekati
level jenuh jual di 30,00.
Rekomendasi: Buy
Support Rp 1750
Resistance Rp 2525
BRPT Melesat Naik 6,76%
Saham PT Barito Pacific Timber (BRPT)
pada perdagangan kemarin (27/8) melesat
naik pesat. Saham BRPT naik Rp 100 atau
naik 6,76% dan ditutup pada level harga Rp
1580. Naiknya saham BRPT ini diperkirakan
lantaran kabar yang berhembus bahwa anak
usaha perseroan , Star Energy, yang akan
melakukan akuisisi tambang migas dan juga
dikombinasi dengan naiknya harga minyak.
Secara teknikal saham BRPT berpotensi
untuk naik. Hal ini karena indikator MACD
saham BRPT baru saja menembus ke
wilayah beli sehingga berpotensi naik dalam
jangka pendek. Hal ini juga ditunjang dengan
kembali naiknya harga minyak semalam di
level US$ 118 per barel.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 1280
Resistance Rp 2130
Baru
Emiten perkebunan, PT Gozco Plantation
(GZCO) mengumumkan bahwa dalam 2
tahun kedepan perseroan akan melakukan
ekspansi lahan seluas 80 ribu Hektare. Nilai
akuisisi tersebut diperkirakan akan mencapai
Rp 5,76 Trilyun. Dimana pembiayaannya
akan berasal dari kas internal hasil IPO
sebesar Rp 500 Milyar dan sisanya sebanyak
Rp 5,26 Trilyun akan berasal dari pinjaman
perbankan yang akan dilakukan bertahap.
Pada perdagangan hari ini (28/8) saham
GZCO diperkirakan akan mencoba menguat.
Pasalnya kemarin harga CPO naik di bursa
berjangka Malaysia sehingga akan menjadi
sentimen positif bagi saham GZCO.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 166
Resistance Rp 235
Nikel Naik , ANTM Berpotensi Rebound
Harga komoditas nikel berdasarkan data
Bloomberg menunjukkan kenaikan sebesar
4,77% dan berada pada level US$ 20.960 per
MT. Hal ini tentunya akan menjadi sentiment
positif bagi saham emiten nikel seperti saham
PT Aneka Tambang (ANTM) yang selama
ini terbenam akibat anjloknya harga nikel.
Secara teknikal saham ANTM saat ini berada
di area bottom di sekitar Rp 1800-1900
sehingga berpotensi untuk naik dalam jangka
pendek. Selain itu indikator RSI (Relative
Strength Index ) saham ANTM saat ini
berada di level 30,92 atau sudah mendekati
level jenuh jual di 30,00.
Rekomendasi: Buy
Support Rp 1750
Resistance Rp 2525
BRPT Melesat Naik 6,76%
Saham PT Barito Pacific Timber (BRPT)
pada perdagangan kemarin (27/8) melesat
naik pesat. Saham BRPT naik Rp 100 atau
naik 6,76% dan ditutup pada level harga Rp
1580. Naiknya saham BRPT ini diperkirakan
lantaran kabar yang berhembus bahwa anak
usaha perseroan , Star Energy, yang akan
melakukan akuisisi tambang migas dan juga
dikombinasi dengan naiknya harga minyak.
Secara teknikal saham BRPT berpotensi
untuk naik. Hal ini karena indikator MACD
saham BRPT baru saja menembus ke
wilayah beli sehingga berpotensi naik dalam
jangka pendek. Hal ini juga ditunjang dengan
kembali naiknya harga minyak semalam di
level US$ 118 per barel.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 1280
Resistance Rp 2130
Tuesday, August 26, 2008
Rabu, 27 Agustus 2008
Nilai perdagangan masih sangat kecil, dengan nilai yang tidak jauh berbeda dengan
sehari sebelumnya. Dow bergerak volatile kemarin, namun berhasil ditutup positf.
Kenaikan ini disebabkan oleh positifnya saham berbasis energi dan saham finansial.
Harga minyak yang tinggi mendorong aksi beli pada saham energi, sedangkan saham
finansial naik karena prediksi analis bahwa Fannie Mae dan Freddie Mac masih mempunyai
cukup modal untuk dapat bertahan. Selain itu, data penjualan rumah dan indeks kepercayaan
konsumen di AS naik diatas ekspektasi. Bursa regional pagi ini dibuka mixed
namun sebagian besar bursa melemah. Masih belum terdapat sentimen kuat dari dalam
negeri yang dapat mendorong perdagangan hari ini. Berdasarkan kondisi tersebut,
indeks hari ini diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah dengan
support resisten pertama pada 2,094—2,123 dan kedua pada 2,064—2,153.
news
Salim to control CMNP, Hary Tanoe shall leave (ID)
Qtel-Gobel lobby Vice President regarding Indosat (ID)
Car sales in 2008 is projected to set new record, may surpass 570 thousand units (ID)
Fren and Esia shareholders negotiates on shares transaction (BI)
Joint venture company of Bukit Asam and PT KA raise fund Rp 4 tn (BI)
Gas volume distribution supported PGN earnings (BI)
Astra Otoparts (AUTO) - Key Takeaways
− Unexpected 1H08 results, surpassed management expectation
− Revenue up 43% yoy, net profit up 138%, core profit up 206%
− Higher earnings in 1H08 was due to volume as price had been hiked in FY07
− Gross margin in 1H08 reached 20%, relatively stable as increasing cost can be passedthrough
− Margins in 2H08 may expand on the back of declining lead price (down 106% from last
year’s high)
− Healthy balance sheet - net cash presently
− Investment capex plan of Rp 200 bn for FY08
− Ownership by: 91.8% Astra and 8.2% public
− In 1H08, revenues by segment are : 41.4% Original Equipment Manufacturer (OEM).
42.6% Replacement. 16.0% Export.
Nilai perdagangan masih sangat kecil, dengan nilai yang tidak jauh berbeda dengan
sehari sebelumnya. Dow bergerak volatile kemarin, namun berhasil ditutup positf.
Kenaikan ini disebabkan oleh positifnya saham berbasis energi dan saham finansial.
Harga minyak yang tinggi mendorong aksi beli pada saham energi, sedangkan saham
finansial naik karena prediksi analis bahwa Fannie Mae dan Freddie Mac masih mempunyai
cukup modal untuk dapat bertahan. Selain itu, data penjualan rumah dan indeks kepercayaan
konsumen di AS naik diatas ekspektasi. Bursa regional pagi ini dibuka mixed
namun sebagian besar bursa melemah. Masih belum terdapat sentimen kuat dari dalam
negeri yang dapat mendorong perdagangan hari ini. Berdasarkan kondisi tersebut,
indeks hari ini diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah dengan
support resisten pertama pada 2,094—2,123 dan kedua pada 2,064—2,153.
news
Salim to control CMNP, Hary Tanoe shall leave (ID)
Qtel-Gobel lobby Vice President regarding Indosat (ID)
Car sales in 2008 is projected to set new record, may surpass 570 thousand units (ID)
Fren and Esia shareholders negotiates on shares transaction (BI)
Joint venture company of Bukit Asam and PT KA raise fund Rp 4 tn (BI)
Gas volume distribution supported PGN earnings (BI)
Astra Otoparts (AUTO) - Key Takeaways
− Unexpected 1H08 results, surpassed management expectation
− Revenue up 43% yoy, net profit up 138%, core profit up 206%
− Higher earnings in 1H08 was due to volume as price had been hiked in FY07
− Gross margin in 1H08 reached 20%, relatively stable as increasing cost can be passedthrough
− Margins in 2H08 may expand on the back of declining lead price (down 106% from last
year’s high)
− Healthy balance sheet - net cash presently
− Investment capex plan of Rp 200 bn for FY08
− Ownership by: 91.8% Astra and 8.2% public
− In 1H08, revenues by segment are : 41.4% Original Equipment Manufacturer (OEM).
42.6% Replacement. 16.0% Export.
BTEL Melesat Pasca Kabar Akuisisi FREN
Saham emiten operator CDMA , PT Bakrie
Telecom (BTEL) pada perdagangan kemarin
(26/8) melesat naik. BTEL berhasil naik Rp 20
atau naik 7,69% dan ditutup pada level Rp 280.
Naiknya saham BTEL ini dipicu oleh kabar
bahwa BTEL akan melakukan akuisisi terhadap
operator CDMA lainnya milik Grup Hary Tanu ,
Mobile 8 (FREN). Namun saham BTEL saat ini
sedang mendekati wilayah jenuh beli secara
teknikal. Indikator RSI saham BTEL berada pada
level 69,67 atau sudah mendekati level 70,00
yang artinya sudah jenuh beli dan rawan akan
koreksi teknikal. Selain itu sebaiknya investor
menunggu terlebih dahulu konfirmasi resmi dari
BTEL mengenai kabar akuisisi tersebut.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 245
Resistance Rp 300
Laporan Kinerja Semester 1 , Bawa PGAS
Menanjak
Saham emiten utilitas gas BUMN, PT Gas
Negara (PGAS) bergerak menanjak pada
perdagangan kemarin melawan arah pasar yang
sedang negatif. Saham PGAS berhasil naik Rp 25
atau naik 1,04% dan ditutup pada level Rp 2425.
Naiknya saham PGAS ini karena laporan kinerja
semester 1 perseroan yang membaik membuat
investor kembali mengkoleksi kembali saham
PGAS. Dalam jangka pendek saham PGAS
masih berpotensi untuk naik. Hal ini karena
semalam harga komoditas naik dipimpin minyak
yang naik 1,01% dan berada pada level $116,27
per barel. Secara teknikal saham PGAS juga
masih berada di area bullish sehingga masih
berpotensi untuk naik. Support saham PGAS di
Rp 2220 dan Resistance di Rp 2780.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2220
Resistance Rp 2780
UNSP Akan Coba Naik : Saham Sudah Di
Bottom
Saham emiten perkebunan, PT Bakrie Sumatera
Plantation (UNSP) dalam jangka pendek
diperkirakan akan mencoba untuk melakukan
rebound. Pasalnya saat ini saham UNSP berada
pada level bottom di Rp 1040. Nilai RSI
(Relative Strength Index) saham UNSP pun
sudah mendekati level jenuh jual. Saat ini nilai
RSI UNSP berada pada level 33,39 atau sudah
dekat dengan level 30,00 yang artinya sudah
jenuh jual dan berpotensi untuk rebound secara
teknikal.
Secara fundamental , pada tahun ini UNSP
mencanangkan serangkaian ekspansi guna
meningkatkan kinerja fundamental perseroan.
UNSP akan menganggarkan dana sebesar US$
100 Juta guna membiayai sejumlah ekspansi
perseroan tahun ini. Sekitar US$ 40 juta
digunakan perseroan untuk meningkatkan
penyertaan saham pada PT Agri Resources dari
25% menjadi 51%. Lalu sekitar US$ 40 juta
lainnya digunakan perseroan untuk melakukan
pengembangan lahan seluas 50.000 Ha.
Sedangkan sisanya akan digunakan perseroan
sebagai modal kerja
Sekarang perseroan sedang menjajaki
pembangunan kernel crushing plant yang mampu
produksi sebanyak 20 ton per jam minyak inti
kelapa sawit. Pada tahun 2007 lalu UNSP
mampu memproduksi inti sawit sebanyak 38.270
ton. Dengan serangkaian rencana tersebut maka
diharapkan akan menciptakan kenaikan kinerja
UNSP apalagi harga CPO kedepan masih akan
meningkat seiring permintaan yang tinggi
menjelang bulan puasa dan lebaran.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 990
Resistance Rp 1420
CPIN (Rp 880) - SELL
Membentuk reversal top dengan potensi bearish
trend jangka pendek. Target support pertama di
level 830 dan kedua di 760. Rekomendasi beli
jika melewati level 800.
Trading Range: 760 - 915
Saham emiten operator CDMA , PT Bakrie
Telecom (BTEL) pada perdagangan kemarin
(26/8) melesat naik. BTEL berhasil naik Rp 20
atau naik 7,69% dan ditutup pada level Rp 280.
Naiknya saham BTEL ini dipicu oleh kabar
bahwa BTEL akan melakukan akuisisi terhadap
operator CDMA lainnya milik Grup Hary Tanu ,
Mobile 8 (FREN). Namun saham BTEL saat ini
sedang mendekati wilayah jenuh beli secara
teknikal. Indikator RSI saham BTEL berada pada
level 69,67 atau sudah mendekati level 70,00
yang artinya sudah jenuh beli dan rawan akan
koreksi teknikal. Selain itu sebaiknya investor
menunggu terlebih dahulu konfirmasi resmi dari
BTEL mengenai kabar akuisisi tersebut.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 245
Resistance Rp 300
Laporan Kinerja Semester 1 , Bawa PGAS
Menanjak
Saham emiten utilitas gas BUMN, PT Gas
Negara (PGAS) bergerak menanjak pada
perdagangan kemarin melawan arah pasar yang
sedang negatif. Saham PGAS berhasil naik Rp 25
atau naik 1,04% dan ditutup pada level Rp 2425.
Naiknya saham PGAS ini karena laporan kinerja
semester 1 perseroan yang membaik membuat
investor kembali mengkoleksi kembali saham
PGAS. Dalam jangka pendek saham PGAS
masih berpotensi untuk naik. Hal ini karena
semalam harga komoditas naik dipimpin minyak
yang naik 1,01% dan berada pada level $116,27
per barel. Secara teknikal saham PGAS juga
masih berada di area bullish sehingga masih
berpotensi untuk naik. Support saham PGAS di
Rp 2220 dan Resistance di Rp 2780.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2220
Resistance Rp 2780
UNSP Akan Coba Naik : Saham Sudah Di
Bottom
Saham emiten perkebunan, PT Bakrie Sumatera
Plantation (UNSP) dalam jangka pendek
diperkirakan akan mencoba untuk melakukan
rebound. Pasalnya saat ini saham UNSP berada
pada level bottom di Rp 1040. Nilai RSI
(Relative Strength Index) saham UNSP pun
sudah mendekati level jenuh jual. Saat ini nilai
RSI UNSP berada pada level 33,39 atau sudah
dekat dengan level 30,00 yang artinya sudah
jenuh jual dan berpotensi untuk rebound secara
teknikal.
Secara fundamental , pada tahun ini UNSP
mencanangkan serangkaian ekspansi guna
meningkatkan kinerja fundamental perseroan.
UNSP akan menganggarkan dana sebesar US$
100 Juta guna membiayai sejumlah ekspansi
perseroan tahun ini. Sekitar US$ 40 juta
digunakan perseroan untuk meningkatkan
penyertaan saham pada PT Agri Resources dari
25% menjadi 51%. Lalu sekitar US$ 40 juta
lainnya digunakan perseroan untuk melakukan
pengembangan lahan seluas 50.000 Ha.
Sedangkan sisanya akan digunakan perseroan
sebagai modal kerja
Sekarang perseroan sedang menjajaki
pembangunan kernel crushing plant yang mampu
produksi sebanyak 20 ton per jam minyak inti
kelapa sawit. Pada tahun 2007 lalu UNSP
mampu memproduksi inti sawit sebanyak 38.270
ton. Dengan serangkaian rencana tersebut maka
diharapkan akan menciptakan kenaikan kinerja
UNSP apalagi harga CPO kedepan masih akan
meningkat seiring permintaan yang tinggi
menjelang bulan puasa dan lebaran.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 990
Resistance Rp 1420
CPIN (Rp 880) - SELL
Membentuk reversal top dengan potensi bearish
trend jangka pendek. Target support pertama di
level 830 dan kedua di 760. Rekomendasi beli
jika melewati level 800.
Trading Range: 760 - 915
market
Review : IHSG Melemah 19 Poin, Aktivitas Sepi
IHSG kemarin (26/8) ditutup melemah 0,92% atau turun 19,676 poin
dan ditutup pada level 2107,598. Sementara itu indeks saham unggulan
LQ45 juga melemah 1,40% atau turun 6,185 poin dan ditutup pada level
435,433. IHSG turun akibat turunnya bursa regional kemarin seperti
bursa Jepang dan Korea yang melemah.
Saham – saham unggulan melemah akibat derasnya tekanan jual
investor akibat kekhawatiran resesi global yang dilontarkan oleh IMF
semalam. Saham unggulan yang turun pesat hari ini adalah saham BCA
(BBCA) turun 3,28% jadi Rp 2950, Bumi Resources (BUMI) turun Rp
2,78% jadi Rp 5250, dan Telkom (TLKM) turun 2,53% jadi Rp 7750.
Sementara itu beberapa saham unggulan yang naik adalah saham Barito
Pacific (BRPT) naik 8,82% jadi Rp 1480, Bakrie Telecom (BTEL) naik
7,69% jadi Rp 280 dan PGAS naik 1,04% jadi Rp 2425.
Wall Street Mixed, Minyak Kembali Naik.
Wall Street semalam terpantau berakhir mixed setelah minyak yang
menguat mendorong naiknya saham-saham komoditas. Sementara itu,
saham-saham teknologi dan sensitif terhadap pergerakan minyak
berakhir melemah. Namun, secara keseluruhan kenaikan saham-saham
komoditas mampu menopang bursa.
Minyak mentah terpantau menguat ke level $116.27 setelah sebelumnya
sempat menyentuh level $117 akibat badai Gustav, yang dikhawatirkan
bisa mengganggu pasokan minyak. Sehingga, saham-saham komoditas
menjadi faktor penopang bursa, antara lain: Exxon Mobil (1.58%),
Alcoa (0.60%), dan Chevron (0.33%). Naiknya kembali harga minyak
ini dapat menjadi sentimen negatif bagi pergerakan saham perbankan
pada hari ini di BEI.
IHSG Masih Mencari Arah, Saham Komoditas Akan Coba Naik
IHSG pada perdagangan hari ini (27/8) diperkirakan akan mencari arah.
Hal ini karena saat ini belum ada sentimen yang dapat menggerakkan
pasar lebih jauh. Bursa AS semalam bergerak mixed sedangkan Bursa
regional pada pagi ini melemah terbatas menandakan secara global pasar
masih sedang mencari arah.
Potensi penguatan pada hari ini mungkin terjadi pada saham – saham
berbasis komoditas seperti saham perkebunan dan perbankan. Hal ini
karena naiknya harga minyak semalam di level US$ 116 per barel
diharapkan akan menjadi angin segar bagi saham – saham berbasis
komoditas.
Akan tetapi naiknya kembali harga minyak akan membuat sentimen
negatif bagi saham – saham yang bergerak sensitif akan harga minyak
seperti saham perbankan, properti, dan semen pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi oleh investor pada hari ini
adalah saham UNSP, AALI, PTBA, PGAS, MEDC, BISI, DAVO,
TBLA dan SGRO.
IHSG kemarin (26/8) ditutup melemah 0,92% atau turun 19,676 poin
dan ditutup pada level 2107,598. Sementara itu indeks saham unggulan
LQ45 juga melemah 1,40% atau turun 6,185 poin dan ditutup pada level
435,433. IHSG turun akibat turunnya bursa regional kemarin seperti
bursa Jepang dan Korea yang melemah.
Saham – saham unggulan melemah akibat derasnya tekanan jual
investor akibat kekhawatiran resesi global yang dilontarkan oleh IMF
semalam. Saham unggulan yang turun pesat hari ini adalah saham BCA
(BBCA) turun 3,28% jadi Rp 2950, Bumi Resources (BUMI) turun Rp
2,78% jadi Rp 5250, dan Telkom (TLKM) turun 2,53% jadi Rp 7750.
Sementara itu beberapa saham unggulan yang naik adalah saham Barito
Pacific (BRPT) naik 8,82% jadi Rp 1480, Bakrie Telecom (BTEL) naik
7,69% jadi Rp 280 dan PGAS naik 1,04% jadi Rp 2425.
Wall Street Mixed, Minyak Kembali Naik.
Wall Street semalam terpantau berakhir mixed setelah minyak yang
menguat mendorong naiknya saham-saham komoditas. Sementara itu,
saham-saham teknologi dan sensitif terhadap pergerakan minyak
berakhir melemah. Namun, secara keseluruhan kenaikan saham-saham
komoditas mampu menopang bursa.
Minyak mentah terpantau menguat ke level $116.27 setelah sebelumnya
sempat menyentuh level $117 akibat badai Gustav, yang dikhawatirkan
bisa mengganggu pasokan minyak. Sehingga, saham-saham komoditas
menjadi faktor penopang bursa, antara lain: Exxon Mobil (1.58%),
Alcoa (0.60%), dan Chevron (0.33%). Naiknya kembali harga minyak
ini dapat menjadi sentimen negatif bagi pergerakan saham perbankan
pada hari ini di BEI.
IHSG Masih Mencari Arah, Saham Komoditas Akan Coba Naik
IHSG pada perdagangan hari ini (27/8) diperkirakan akan mencari arah.
Hal ini karena saat ini belum ada sentimen yang dapat menggerakkan
pasar lebih jauh. Bursa AS semalam bergerak mixed sedangkan Bursa
regional pada pagi ini melemah terbatas menandakan secara global pasar
masih sedang mencari arah.
Potensi penguatan pada hari ini mungkin terjadi pada saham – saham
berbasis komoditas seperti saham perkebunan dan perbankan. Hal ini
karena naiknya harga minyak semalam di level US$ 116 per barel
diharapkan akan menjadi angin segar bagi saham – saham berbasis
komoditas.
Akan tetapi naiknya kembali harga minyak akan membuat sentimen
negatif bagi saham – saham yang bergerak sensitif akan harga minyak
seperti saham perbankan, properti, dan semen pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi oleh investor pada hari ini
adalah saham UNSP, AALI, PTBA, PGAS, MEDC, BISI, DAVO,
TBLA dan SGRO.
Tuesday, August 12, 2008
MARKET REVIEW
IHSG Anjlok di Posisi Terendah 2008
IHSG pada perdagangan kemarin kembali ditutup anjlok pesat. IHSG
turun 76,341 point atau turun 3,68% dan ditutup pada level 2057,679
yang merupakan posisi terendahnya di tahun 2008 ini. Indeks saham –
saham unggulan LQ45 juga anjlok pesat 18,76 poin atau turun 4,27%
dan ditutup pada level 421,165.
Penurunan bursa ini tak lepas dari turunnya saham – saham
pertambangan menyusul sentimen negatif turunnya harga komoditas.
Saham – saham tambang yang turun pesat adalah saham MEDC turun
13,02% jadi Rp 4175, TINS turun 11,54% jadi Rp 2300, ELSA turun
8,33% jadi Rp 275, INCO turun 7,74% jadi Rp 3575 dan ANTM turun
7,34% jadi Rp 1830.
Wall Street Melemah Didorong Saham Finansial.
Bursa saham Wall Street kembali dihantui kekhawatiran krisis kredit
pada perdagangan semalam dan ditutup melemah. Beberapa bank besar
mengalami downgrade dan writedown, sehingga saham finansial
kembali memperoleh tekanan. Saham JPMorgan tertekan 9.48% ke level
$37.92 setelah mereka mencatatkan kerugian $1.5 miliar sepanjang
kuartal ini. Goldman Sachs anjlok 6% ke level $167.30 setelah
mengalami downgrade dari Deutsche Bank dan analis Oppenheimer
yakni Meredith Whitney.
Wachovia meningkatkan laporan kerugian kuartal keduanya menjadi
$9.1 miliar dan mereka menyatakan akan memangkas tenaga kerja.
Richard Fisher, Presiden Dallas Fed juga menumbuhkan sentimen
negatif setelah mengungkapkan bahwa perekonomian AS berada dalam
periode perlambatan growth yang panjang dan bahkan tahun ini bisa
menciut.
IHSG Diperkirakan Akan Mencari Arah Pada Hari Ini
IHSG pada perdagangan hari ini (13/8) diperkirakan akan bergerak
sideways. Hal ini karena masih besarnya tekanan sentiment negative dan
sentiment psoitif di saat yang bersamaan akan berpotensi membuat pasar
bergerak sideways.
Sentiment negative berasal dari turunnya bursa AS semalam dan
sebagian besar bursa regional pada pagi ini. Sementara itu sentiment
positif berasal dari kemungkinan aksi beli kembali investor atas saham –
saham unggulan yang kebanyakan telah berada pada area jenuh jual.
Sementara itu harga minyak melemah semalam di level US$ 113 per
barel. Hal ini tentu akan menjadi sentiment negative lanjutan bagi saham
komoditas.
Saham – saham yang patut dikoleksi pada hari ini adalah saham – saham
unggulan yang telah turun pesat belakangan ini dengan rekomendasi buy
on weakness. Saham –saham yang menarik adalah Saham BNBR, ASII,
INDF, ELTY, BUMI, PGAS, TINS, ISAT, BTEL, dan KARK.
IHSG pada perdagangan kemarin kembali ditutup anjlok pesat. IHSG
turun 76,341 point atau turun 3,68% dan ditutup pada level 2057,679
yang merupakan posisi terendahnya di tahun 2008 ini. Indeks saham –
saham unggulan LQ45 juga anjlok pesat 18,76 poin atau turun 4,27%
dan ditutup pada level 421,165.
Penurunan bursa ini tak lepas dari turunnya saham – saham
pertambangan menyusul sentimen negatif turunnya harga komoditas.
Saham – saham tambang yang turun pesat adalah saham MEDC turun
13,02% jadi Rp 4175, TINS turun 11,54% jadi Rp 2300, ELSA turun
8,33% jadi Rp 275, INCO turun 7,74% jadi Rp 3575 dan ANTM turun
7,34% jadi Rp 1830.
Wall Street Melemah Didorong Saham Finansial.
Bursa saham Wall Street kembali dihantui kekhawatiran krisis kredit
pada perdagangan semalam dan ditutup melemah. Beberapa bank besar
mengalami downgrade dan writedown, sehingga saham finansial
kembali memperoleh tekanan. Saham JPMorgan tertekan 9.48% ke level
$37.92 setelah mereka mencatatkan kerugian $1.5 miliar sepanjang
kuartal ini. Goldman Sachs anjlok 6% ke level $167.30 setelah
mengalami downgrade dari Deutsche Bank dan analis Oppenheimer
yakni Meredith Whitney.
Wachovia meningkatkan laporan kerugian kuartal keduanya menjadi
$9.1 miliar dan mereka menyatakan akan memangkas tenaga kerja.
Richard Fisher, Presiden Dallas Fed juga menumbuhkan sentimen
negatif setelah mengungkapkan bahwa perekonomian AS berada dalam
periode perlambatan growth yang panjang dan bahkan tahun ini bisa
menciut.
IHSG Diperkirakan Akan Mencari Arah Pada Hari Ini
IHSG pada perdagangan hari ini (13/8) diperkirakan akan bergerak
sideways. Hal ini karena masih besarnya tekanan sentiment negative dan
sentiment psoitif di saat yang bersamaan akan berpotensi membuat pasar
bergerak sideways.
Sentiment negative berasal dari turunnya bursa AS semalam dan
sebagian besar bursa regional pada pagi ini. Sementara itu sentiment
positif berasal dari kemungkinan aksi beli kembali investor atas saham –
saham unggulan yang kebanyakan telah berada pada area jenuh jual.
Sementara itu harga minyak melemah semalam di level US$ 113 per
barel. Hal ini tentu akan menjadi sentiment negative lanjutan bagi saham
komoditas.
Saham – saham yang patut dikoleksi pada hari ini adalah saham – saham
unggulan yang telah turun pesat belakangan ini dengan rekomendasi buy
on weakness. Saham –saham yang menarik adalah Saham BNBR, ASII,
INDF, ELTY, BUMI, PGAS, TINS, ISAT, BTEL, dan KARK.
REFERENSI
PT Dayaindo Resources (KARK) mengumumkan
perseroan akan segera mengakuisisi 70% saham
tambang batubara milik PT Risna Karya
Wardhana (RKWM) senilai Rp 1,75 Trilyun.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
perseroan, tambang batubara tersebut memiliki
cadangan batubara sebesar 9,23 Juta ton.
Nantinya bila akuisisi tersebut terealisasi maka
total KARK akan memiliki cadangan batubara
sebesar 21 Juta MT. Saham KARK sendiri saat
ini berada pada level Rp 150. Secara teknikal
saham KARK layak dikoleksi dalam jangka
pendek, hal ini karena saat ini saham KARK
sedang jenuh jual sehingga berpotensi melakukan
rebound teknikal dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 130
Resistance Rp 165
Bayan Jeblok Di Hari Pertamanya Di Bursa
Saham emiten batubara PT Bayan Resources
(BYAN) bergerak negatif pada hari pertamanya
di bursa kemarin (12/8). Saham BYAN kemarin
turun Rp 350 atau turun 6,03% dan ditutup pada
level harga Rp 5450. Turunnya saham BYAN ini
lantaran sentimen negatif atas saham komoditas
pada perdagangan kemarin menyusul masih
terpuruknya harga minyak di level US$ 114 per
barel dan juga dikombinasi dengan kabar
ditutupnya akses jalan salah astu tambang
perseroan di Kaltim BYAN sendiri saat ini
mampu memproduksi batubara sebanyak 4,7 Juta
ton atau terbesar nomor delapan saat ini di
Indonesia. Pada tahun 2007 perseroan berhasil
membukukan pendapatan Rp 3,451 Trilyun
dengan laba bersih sebesar Rp 252,7 Milyar
Rekomendasi : Not Rated
Anjloknya Harga Minyak Bawa Saham
MEDC Terpuruk
Saham emiten tambang minyak, PT Medco
Energy (MEDC) bergerak anjlok pada
perdagangan kemarin (12/8). Saham MEDC
anjlok turun Rp 625 atau turun 13,02% dan
ditutup pada level Rp 4175. Hal ini berarti saham
MEDC telah anjlok secara 2 hari berturut-turut.
Saham MEDC kemarin anjlok menyusul
anjloknya harga minyak pada level US$ 114 per
barel sehari sebelumnya. Dalam jangka pendek
saham MEDC masih berpotensi turun. Pasalnya
semalam minyak kembali melemah di level US$
113 per barel yang tentunya diperkirakan akan
menjadi sentimen negatif bagi saham MEDC.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 4000
Resistance Rp 4750
Pefindo : Obligasi 1 -2003 BBNI Tetap
idAALembaga
pemeringkat Pefindo
mengumumkan bahwa peringkat emiten bank
PT Bank BNI (BBNI) untuk obligasi 1-2003
tetap idAA-. Selain itu untuk obligasi
subordinasi 1-2003 juga tetap idAA+. Masih
kokohnya peringkat BBNI ini dikarenakan
masih besarnya dukungan pemerintah,
kuatnya posisi bisnis perseroan dan
permodalan yang sehat. Walaupun ada
ancaman dari kenaikan inflasi dan juga BI
rate yang hingga saat ini telah naik sebesar
100 basis poin (Bps).
Rekomendasi : Medium Term Buy
Support Rp 1200
Resistance Rp 1500
perseroan akan segera mengakuisisi 70% saham
tambang batubara milik PT Risna Karya
Wardhana (RKWM) senilai Rp 1,75 Trilyun.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
perseroan, tambang batubara tersebut memiliki
cadangan batubara sebesar 9,23 Juta ton.
Nantinya bila akuisisi tersebut terealisasi maka
total KARK akan memiliki cadangan batubara
sebesar 21 Juta MT. Saham KARK sendiri saat
ini berada pada level Rp 150. Secara teknikal
saham KARK layak dikoleksi dalam jangka
pendek, hal ini karena saat ini saham KARK
sedang jenuh jual sehingga berpotensi melakukan
rebound teknikal dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 130
Resistance Rp 165
Bayan Jeblok Di Hari Pertamanya Di Bursa
Saham emiten batubara PT Bayan Resources
(BYAN) bergerak negatif pada hari pertamanya
di bursa kemarin (12/8). Saham BYAN kemarin
turun Rp 350 atau turun 6,03% dan ditutup pada
level harga Rp 5450. Turunnya saham BYAN ini
lantaran sentimen negatif atas saham komoditas
pada perdagangan kemarin menyusul masih
terpuruknya harga minyak di level US$ 114 per
barel dan juga dikombinasi dengan kabar
ditutupnya akses jalan salah astu tambang
perseroan di Kaltim BYAN sendiri saat ini
mampu memproduksi batubara sebanyak 4,7 Juta
ton atau terbesar nomor delapan saat ini di
Indonesia. Pada tahun 2007 perseroan berhasil
membukukan pendapatan Rp 3,451 Trilyun
dengan laba bersih sebesar Rp 252,7 Milyar
Rekomendasi : Not Rated
Anjloknya Harga Minyak Bawa Saham
MEDC Terpuruk
Saham emiten tambang minyak, PT Medco
Energy (MEDC) bergerak anjlok pada
perdagangan kemarin (12/8). Saham MEDC
anjlok turun Rp 625 atau turun 13,02% dan
ditutup pada level Rp 4175. Hal ini berarti saham
MEDC telah anjlok secara 2 hari berturut-turut.
Saham MEDC kemarin anjlok menyusul
anjloknya harga minyak pada level US$ 114 per
barel sehari sebelumnya. Dalam jangka pendek
saham MEDC masih berpotensi turun. Pasalnya
semalam minyak kembali melemah di level US$
113 per barel yang tentunya diperkirakan akan
menjadi sentimen negatif bagi saham MEDC.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 4000
Resistance Rp 4750
Pefindo : Obligasi 1 -2003 BBNI Tetap
idAALembaga
pemeringkat Pefindo
mengumumkan bahwa peringkat emiten bank
PT Bank BNI (BBNI) untuk obligasi 1-2003
tetap idAA-. Selain itu untuk obligasi
subordinasi 1-2003 juga tetap idAA+. Masih
kokohnya peringkat BBNI ini dikarenakan
masih besarnya dukungan pemerintah,
kuatnya posisi bisnis perseroan dan
permodalan yang sehat. Walaupun ada
ancaman dari kenaikan inflasi dan juga BI
rate yang hingga saat ini telah naik sebesar
100 basis poin (Bps).
Rekomendasi : Medium Term Buy
Support Rp 1200
Resistance Rp 1500
Sunday, August 10, 2008
HIGHLIGHTS
ITMG Melesat Naik, Imbas Naiknya Harga
Minyak
Saham emiten batubara , PT Indotambang Megah
Raya (ITMG) pada perdagangan akhir pekan lalu
(8/8) bergerak impresif. Saham ITMG jumat lalu
berhasil naik Rp 1600 atau naik 6,25% dan
ditutup pada level harga Rp 27.200. Kenaikan
pesat saham ITMG ini didorong oleh naiknya
kembali harga minyak jumat lalu, membuat
investor memburu kembali saham ITMG. Akan
tetapi saham ITMG pada perdagangan hari ini
(11/8) berpotensi melemah menyusul anjloknya
harga minyak di level US$ 115 per barel akibat
rally dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.
Hal ini tentunya akan menjadi sentiment negative
atas saham ITMG hari ini. Support saham ITMG
di level Rp 25.100 dan Resistance pada level Rp
29.650.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 25.100
Resistance Rp 29.650
BBRI Jeblok Turun 3,20% Akhir Pekan Lalu
Saham emiten perbankan, PT Bank BRI (BBRI)
jumat lalu (8/8) bergerak negatif. Saham BBRI
turun Rp 200 atau turun 3,20% dan ditutup pada
level harga Rp 6050. Hal ini dipicu oleh kembali
naiknya minyak diatas level US$ 120 per barel
jumat lalu membuat investor melakukan aksi jual
terhadap saham BBRI. Akan tetapi pada
perdagangan hari ini (11/8) saham BBRI
berpotensi melakukan rebound. Hal ini
dikarenakan pada penutupan akhir pekan lalu
harga minyak berakhir anjlok pesat di level US$
115 per barel. Hal ini tentunya akan menjadi
sentimen positif bagi saham BBRI pada hari ini.
Support saham BBRI di level Rp 5300 dan
Resistance di level Rp 6400.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 5300
Resistance Rp 6400
Heidelberg Incar SMCB
Perusahaan semen kelas dunia Heidelberg,
dikabarkan akan mengincar 7-10% saham PT
Semen Cibinong (SMCB). Hal ini dilakukan
guna meningkatkan dominasi Heidelberg dalam
industri semen di tanah air. Hal ini ditunjang
dengan prospek industri semen yang masih cerah
menyusul masih tingginya permintaan semen
nasional khususnya untuk proyek infrastruktur
kedepan. Akan tetapi belum ada konfirmasi resmi
dari berbagai pihak yang terkait mengenai hal ini.
Heidelberg sendiri saat ini merupakan pemilik
mayoritas dari emiten semen PT Indocement
Tunggal Prakarsa (INTP).
Rekomendasi : Buy
Support Rp 1750
Resistance Rp 1100
Bentoel Bangun 8 Pabrik Baru
Emiten rokok PT Bentoel (RMBA) kedepan
menargetkan mampu memproduksi 20 Milyar
batang Rokok pada tahun 2009. Untuk
mewujudkan hal tersebut maka perseroan baru
saja mulai membangun 8 pabrik baru senilai Rp
800 Milyar dan juga menambah beberapa mesin
baru.
Rekomendasi : Long Term Buy
Support Rp 450
Resistance Rp 650
Minyak
Saham emiten batubara , PT Indotambang Megah
Raya (ITMG) pada perdagangan akhir pekan lalu
(8/8) bergerak impresif. Saham ITMG jumat lalu
berhasil naik Rp 1600 atau naik 6,25% dan
ditutup pada level harga Rp 27.200. Kenaikan
pesat saham ITMG ini didorong oleh naiknya
kembali harga minyak jumat lalu, membuat
investor memburu kembali saham ITMG. Akan
tetapi saham ITMG pada perdagangan hari ini
(11/8) berpotensi melemah menyusul anjloknya
harga minyak di level US$ 115 per barel akibat
rally dolar AS terhadap mata uang utama lainnya.
Hal ini tentunya akan menjadi sentiment negative
atas saham ITMG hari ini. Support saham ITMG
di level Rp 25.100 dan Resistance pada level Rp
29.650.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 25.100
Resistance Rp 29.650
BBRI Jeblok Turun 3,20% Akhir Pekan Lalu
Saham emiten perbankan, PT Bank BRI (BBRI)
jumat lalu (8/8) bergerak negatif. Saham BBRI
turun Rp 200 atau turun 3,20% dan ditutup pada
level harga Rp 6050. Hal ini dipicu oleh kembali
naiknya minyak diatas level US$ 120 per barel
jumat lalu membuat investor melakukan aksi jual
terhadap saham BBRI. Akan tetapi pada
perdagangan hari ini (11/8) saham BBRI
berpotensi melakukan rebound. Hal ini
dikarenakan pada penutupan akhir pekan lalu
harga minyak berakhir anjlok pesat di level US$
115 per barel. Hal ini tentunya akan menjadi
sentimen positif bagi saham BBRI pada hari ini.
Support saham BBRI di level Rp 5300 dan
Resistance di level Rp 6400.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 5300
Resistance Rp 6400
Heidelberg Incar SMCB
Perusahaan semen kelas dunia Heidelberg,
dikabarkan akan mengincar 7-10% saham PT
Semen Cibinong (SMCB). Hal ini dilakukan
guna meningkatkan dominasi Heidelberg dalam
industri semen di tanah air. Hal ini ditunjang
dengan prospek industri semen yang masih cerah
menyusul masih tingginya permintaan semen
nasional khususnya untuk proyek infrastruktur
kedepan. Akan tetapi belum ada konfirmasi resmi
dari berbagai pihak yang terkait mengenai hal ini.
Heidelberg sendiri saat ini merupakan pemilik
mayoritas dari emiten semen PT Indocement
Tunggal Prakarsa (INTP).
Rekomendasi : Buy
Support Rp 1750
Resistance Rp 1100
Bentoel Bangun 8 Pabrik Baru
Emiten rokok PT Bentoel (RMBA) kedepan
menargetkan mampu memproduksi 20 Milyar
batang Rokok pada tahun 2009. Untuk
mewujudkan hal tersebut maka perseroan baru
saja mulai membangun 8 pabrik baru senilai Rp
800 Milyar dan juga menambah beberapa mesin
baru.
Rekomendasi : Long Term Buy
Support Rp 450
Resistance Rp 650
market riview
IHSG Flat, Saham Komoditas Melesat
Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini (08/08) dilaporkan bergerak
mixed, dengan Indeks Harga Saham Gabungan melemah 3.08 poin atau 0.14%
ke level 2195.93; indeks LQ45 turun 0.94 poin atau 0.57% ke level 45,407; dan
Jakarta Islamic Index menguat 2.045 poin ke level 360.934.
Pelemahan IHSG ini sejalan dengan pelemahan yang dialami Wall Street
semalam akibat sentimen negatif dari kinerja AIG dan Wal-Mart yang lebih
buruk dari ekspektasi.
Saham perbankan terpantau tertekan oleh dampak negatif dari naiknya harga
minyak: BBRI melemah Rp200 ke level Rp6,050; BDMN melemah Rp100 ke
level Rp5,400; BMRI merosot Rp75 ke level Rp2,925 dan BBCA melemah
Rp75 ke level Rp2,950. Sementara itu, saham-saham pertambangan masih
mendominasi top gainer, menyusul kembali menguatnya harga minyak diatas
level $120 semalam: ITMG melonjak Rp1,600 ke level Rp27,200; PTBA
menguat Rp600 ke level Rp13,250; dan BUMI naik Rp300 ke level Rp5,650.
Anjloknya Minyak Bawa Wall Street Reli
Harga minyak mentah akhir pekan lalu dilaporkan melemah sebanyak 4.02% ke
level $115.20 per barrel, seiring dengan penguatan dollar dan menurunnya
permintaan. Ini adalah level terendah minyak mentah dalam tiga bulan.
Pelemahan minyak ini memunculkan sentimen positif yang luar biasa pada
bursa. Dow Jones berakhir melonjak 302.89 poin atau 2.65% ke level
11.734.32; S&P 500 menguat 30.25 poin atau 2.39% ke level 1,296.32; dan
Nasdaq menanjak 58.37 poin atau 2.48% ke level 2,414.10.
Anjloknya Harga Minyak Akan Bawa Saham Unggulan Naik
IHSG pada perdagangan hari ini (11/8) diperkirakan akan bergerak naik
menyusul naiknya bursa regional pada pagi ini bursa AS akhir pekan lalu.
Selain itu anjloknya harga minyak di level US$ 115 per barel akan coba
mengangkat saham – saham unggulan yang sedang murah akibat sentimen
negatif inflasi.
Turunnya harga minyak akan mengurangi kekhawatiran akan inflasi di pasar
sehingga investor akan melakukan aksi beli terhadap saham – saham unggulan
yang bergerak sensitif akan inflasi seperti saham perbankan, semen,
telekomunikasi, dan properti.
Sementara itu anjloknya minyak akan menjadi sentimen negatif bagi saham –
saham tambang dan perkebunan hari ini. Hal ini tentunya akan menjadi tahanan
kenaikan bursa pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham BBRI,
BMRI, BBCA, BDMN, BBNI, ISAT, TLKM, ELTY, ADHI, WIKA, JSMR,
INDF, ASII, BHIT, SMGR, INTP, SMCB, dan CTRA.
Bursa Efek Indonesia pada perdagangan hari ini (08/08) dilaporkan bergerak
mixed, dengan Indeks Harga Saham Gabungan melemah 3.08 poin atau 0.14%
ke level 2195.93; indeks LQ45 turun 0.94 poin atau 0.57% ke level 45,407; dan
Jakarta Islamic Index menguat 2.045 poin ke level 360.934.
Pelemahan IHSG ini sejalan dengan pelemahan yang dialami Wall Street
semalam akibat sentimen negatif dari kinerja AIG dan Wal-Mart yang lebih
buruk dari ekspektasi.
Saham perbankan terpantau tertekan oleh dampak negatif dari naiknya harga
minyak: BBRI melemah Rp200 ke level Rp6,050; BDMN melemah Rp100 ke
level Rp5,400; BMRI merosot Rp75 ke level Rp2,925 dan BBCA melemah
Rp75 ke level Rp2,950. Sementara itu, saham-saham pertambangan masih
mendominasi top gainer, menyusul kembali menguatnya harga minyak diatas
level $120 semalam: ITMG melonjak Rp1,600 ke level Rp27,200; PTBA
menguat Rp600 ke level Rp13,250; dan BUMI naik Rp300 ke level Rp5,650.
Anjloknya Minyak Bawa Wall Street Reli
Harga minyak mentah akhir pekan lalu dilaporkan melemah sebanyak 4.02% ke
level $115.20 per barrel, seiring dengan penguatan dollar dan menurunnya
permintaan. Ini adalah level terendah minyak mentah dalam tiga bulan.
Pelemahan minyak ini memunculkan sentimen positif yang luar biasa pada
bursa. Dow Jones berakhir melonjak 302.89 poin atau 2.65% ke level
11.734.32; S&P 500 menguat 30.25 poin atau 2.39% ke level 1,296.32; dan
Nasdaq menanjak 58.37 poin atau 2.48% ke level 2,414.10.
Anjloknya Harga Minyak Akan Bawa Saham Unggulan Naik
IHSG pada perdagangan hari ini (11/8) diperkirakan akan bergerak naik
menyusul naiknya bursa regional pada pagi ini bursa AS akhir pekan lalu.
Selain itu anjloknya harga minyak di level US$ 115 per barel akan coba
mengangkat saham – saham unggulan yang sedang murah akibat sentimen
negatif inflasi.
Turunnya harga minyak akan mengurangi kekhawatiran akan inflasi di pasar
sehingga investor akan melakukan aksi beli terhadap saham – saham unggulan
yang bergerak sensitif akan inflasi seperti saham perbankan, semen,
telekomunikasi, dan properti.
Sementara itu anjloknya minyak akan menjadi sentimen negatif bagi saham –
saham tambang dan perkebunan hari ini. Hal ini tentunya akan menjadi tahanan
kenaikan bursa pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham BBRI,
BMRI, BBCA, BDMN, BBNI, ISAT, TLKM, ELTY, ADHI, WIKA, JSMR,
INDF, ASII, BHIT, SMGR, INTP, SMCB, dan CTRA.
Thursday, August 7, 2008
berita saham
Laba bersih semester I 2008 International Nickel Indonesia (INCO) anjlok
58,18 % menjadi $295,6 juta atau 0,03 per saham dibanding periode sama
tahun sebelumnya yang meraih laba bersih $707 juta atau 0,07 per saham.
Keterangan kamis menyebutkan penjualan turun jadi $819,15 juta dari
$1,30 miliar dengan laba kotor tertekan menjadi $430,4 juta dari $997,4
juta. Sementara laba usaha perseroan turun menjadi $412,65 juta dari
$969,46 juta.Sedangkan pendapatan lain-lain turun menjadi $9,93 juta dari
sebelumnya $40,72 juta membuat laba sebelum pajak menjadi $422,59
juta dari $1,01 miliar sebelumnya.
PT Telkom memperkirakan pertumbuhan akan turun sebesar 11 persen
tahun ini ketika perseroan terpaksa menurunkan tarif untuk bersaing
dengan kompetitor. "Kita harus sesuaikan harga dengan kompetitor," kata
Rinaldi Firmansyah presiden direktur perseroan. Pendapatan Telkom tahun
lalu naik 16 persen menjadi Rp.59,4 triliun. Naiknya kompetisi di sektor
seluler indonesia memaksa anak usaha perseroan Telkomsel juga
melakukan perang tarif dan banyak iklan. Perseroan menurut Rinaldi juga
akan mengembangkan pasar televisi kabel dan jaringan.
PT Perkebunan Nusantara III (PTPN) menargetkan dana dari hasil
penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp
1,7-2 triliun."Target dana IPO kami sekitar Rp 1,7-2 triliun," ungkap
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN III, Chairul Muluk di Jakarta
kamis.Dana tersebut akan digunakan untuk penambahan landbank
sebanyak 20 ribu hektar untuk tahap pertama, pembangunan pabrik kelapa
sawit, penanaman lahan dan rehabilitasi lahan.
Perolehan laba PT Medco Energy Tbk (MEDC) dipastikan bakal melewati US$
300 juta, terutama dikontribusikan oleh masuknya sebagian hasil penjualan
PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)."Laba tahun ini yang jelas akan
sangat tinggi karena masuknya sebagian hasil penjualan Apexindo pada
Oktober nanti," ujar Direktur Keuangan MEDC, Cyrill Noerhadi usai RUPSLB
di Graha Niaga, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (7/8/2008).Penjualan
1.287.045.106 saham APEX milik MEDC di harga Rp 2.450 per saham ditaksir
mencapai US$ 340,9 juta. Mekanisme pembayaran PT Mitra Rajasa Tbk
(MIRA) selaku pembeli APEX dilakukan dalam dua cara. Pertama, secara
tunai sebesar US$ 272,7 juta. Sisanya dibayarkan dengan obligasi
berjaminan 1 tahun senilai US$ 68,2 juta. Pada semester I lalu, MEDC
membukukan laba bersih sebesar US$ 62 juta. Sebagaimana dikatakan
Cyrill, seluruh dana penjualan APEX akan dimasukkan dalam saldo laba
perseroan di tahun 2008. Dengan asumsi tersebut, perolehan laba MEDC
tanpa memperhitungkan laba semester dua mendatang, minimal akan
sebesar US$ 334,7 juta.Tahun 2007 lalu, perolehan laba MEDC hanya
sebesar US$ 6,5 juta. Dengan perkiraan minimal tahun ini MEDC akan
membukukan laba sebesar US$ 334,7 juta, maka pertumbuhan laba year on
year MEDC dipastikan akan mencapai 5.000% lebih.
58,18 % menjadi $295,6 juta atau 0,03 per saham dibanding periode sama
tahun sebelumnya yang meraih laba bersih $707 juta atau 0,07 per saham.
Keterangan kamis menyebutkan penjualan turun jadi $819,15 juta dari
$1,30 miliar dengan laba kotor tertekan menjadi $430,4 juta dari $997,4
juta. Sementara laba usaha perseroan turun menjadi $412,65 juta dari
$969,46 juta.Sedangkan pendapatan lain-lain turun menjadi $9,93 juta dari
sebelumnya $40,72 juta membuat laba sebelum pajak menjadi $422,59
juta dari $1,01 miliar sebelumnya.
PT Telkom memperkirakan pertumbuhan akan turun sebesar 11 persen
tahun ini ketika perseroan terpaksa menurunkan tarif untuk bersaing
dengan kompetitor. "Kita harus sesuaikan harga dengan kompetitor," kata
Rinaldi Firmansyah presiden direktur perseroan. Pendapatan Telkom tahun
lalu naik 16 persen menjadi Rp.59,4 triliun. Naiknya kompetisi di sektor
seluler indonesia memaksa anak usaha perseroan Telkomsel juga
melakukan perang tarif dan banyak iklan. Perseroan menurut Rinaldi juga
akan mengembangkan pasar televisi kabel dan jaringan.
PT Perkebunan Nusantara III (PTPN) menargetkan dana dari hasil
penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) sebesar Rp
1,7-2 triliun."Target dana IPO kami sekitar Rp 1,7-2 triliun," ungkap
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN III, Chairul Muluk di Jakarta
kamis.Dana tersebut akan digunakan untuk penambahan landbank
sebanyak 20 ribu hektar untuk tahap pertama, pembangunan pabrik kelapa
sawit, penanaman lahan dan rehabilitasi lahan.
Perolehan laba PT Medco Energy Tbk (MEDC) dipastikan bakal melewati US$
300 juta, terutama dikontribusikan oleh masuknya sebagian hasil penjualan
PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX)."Laba tahun ini yang jelas akan
sangat tinggi karena masuknya sebagian hasil penjualan Apexindo pada
Oktober nanti," ujar Direktur Keuangan MEDC, Cyrill Noerhadi usai RUPSLB
di Graha Niaga, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Kamis (7/8/2008).Penjualan
1.287.045.106 saham APEX milik MEDC di harga Rp 2.450 per saham ditaksir
mencapai US$ 340,9 juta. Mekanisme pembayaran PT Mitra Rajasa Tbk
(MIRA) selaku pembeli APEX dilakukan dalam dua cara. Pertama, secara
tunai sebesar US$ 272,7 juta. Sisanya dibayarkan dengan obligasi
berjaminan 1 tahun senilai US$ 68,2 juta. Pada semester I lalu, MEDC
membukukan laba bersih sebesar US$ 62 juta. Sebagaimana dikatakan
Cyrill, seluruh dana penjualan APEX akan dimasukkan dalam saldo laba
perseroan di tahun 2008. Dengan asumsi tersebut, perolehan laba MEDC
tanpa memperhitungkan laba semester dua mendatang, minimal akan
sebesar US$ 334,7 juta.Tahun 2007 lalu, perolehan laba MEDC hanya
sebesar US$ 6,5 juta. Dengan perkiraan minimal tahun ini MEDC akan
membukukan laba sebesar US$ 334,7 juta, maka pertumbuhan laba year on
year MEDC dipastikan akan mencapai 5.000% lebih.
pergerakan market
IHSG pada perdagangan kemarin ditutup menguat 0.54% ke level
2199.01 dengan total transaksi senilai 3.4 triliun . Reboundnya beberapa
saham pertambangan non metal sepert i BUMI,PTBA dan ADRO menjadi
support bagi indeks. Dow Jones turun signifikan lebih dari 200 poin
(-1.93%) ke level 11431.43 pada perdagangan di New York tadi malam
ditengah kenaikan tipis harga minyak ke level US$120/barel karena kebakaran
oil pipeline di Turki. US Jobless claims yang merupakan indikator
tingkat penggangguran di Amerika Serikat meningkat dan berada di
level tertinggi sejak Maret 2002. IHSG saat ini berada di kisaran level
support dan psikologis yang kuat, 2200. Pergerakan IHSG masih berada
pada level ketidakpastian untuk arah pergerakan selanjutnya. Sahamsaham
pertambangan non metal berpeluang untuk melanjutkan rebound
pada hari ini. Saat ini saham saham commodity menguasai sekitar 25%
dari total bobot IHSG. Pergerakan saham saham commodity sangat menentukan
arah pergerakan indeks selanjutnya
2199.01 dengan total transaksi senilai 3.4 triliun . Reboundnya beberapa
saham pertambangan non metal sepert i BUMI,PTBA dan ADRO menjadi
support bagi indeks. Dow Jones turun signifikan lebih dari 200 poin
(-1.93%) ke level 11431.43 pada perdagangan di New York tadi malam
ditengah kenaikan tipis harga minyak ke level US$120/barel karena kebakaran
oil pipeline di Turki. US Jobless claims yang merupakan indikator
tingkat penggangguran di Amerika Serikat meningkat dan berada di
level tertinggi sejak Maret 2002. IHSG saat ini berada di kisaran level
support dan psikologis yang kuat, 2200. Pergerakan IHSG masih berada
pada level ketidakpastian untuk arah pergerakan selanjutnya. Sahamsaham
pertambangan non metal berpeluang untuk melanjutkan rebound
pada hari ini. Saat ini saham saham commodity menguasai sekitar 25%
dari total bobot IHSG. Pergerakan saham saham commodity sangat menentukan
arah pergerakan indeks selanjutnya
priview
IHSG pada perdagangan kemarin (07/08) di tutup menguat 11.81 poin
(+0.1%) ke level 2,187.2. Saham saham yang mengalami kenaikan adalah
PTBA naik Rp 500 (+4.1%) ke Rp 12,650, BUMI naik Rp 100 (+1.9%) ke Rp
5,350, ITMG naik Rp 450 (+1.8%) ke Rp 25,600, ADRO naik Rp 20 (+1.3%)
ke Rp 1,560, BBRI naik Rp 200 (+3.3%) ke Rp 6,250, BDMN naik Rp 150
(+2.8%) ke Rp 5,500, BBNI naik Rp 10 (+0.7%) ke Rp 1,370, PNBN naik Rp
50 (+5.9%) ke Rp 890, ISAT naik Rp 150 (+2.4%) ke Rp 6,250, UNVR naik
Rp 100 (+1.4%) ke Rp 7,100 dan ELTY naik Rp 25 (+7.3%) ke Rp 365.
Investor asing melakukan pembelian bersih Rp 143 miliar. Nilai tukar rupiah
di pasar spot antar-bank Jakarta pada perdagangan kemarin (07/08) ditutup
terkoreksi 20 poin berada di level 9,095 per dolar AS.
(+0.1%) ke level 2,187.2. Saham saham yang mengalami kenaikan adalah
PTBA naik Rp 500 (+4.1%) ke Rp 12,650, BUMI naik Rp 100 (+1.9%) ke Rp
5,350, ITMG naik Rp 450 (+1.8%) ke Rp 25,600, ADRO naik Rp 20 (+1.3%)
ke Rp 1,560, BBRI naik Rp 200 (+3.3%) ke Rp 6,250, BDMN naik Rp 150
(+2.8%) ke Rp 5,500, BBNI naik Rp 10 (+0.7%) ke Rp 1,370, PNBN naik Rp
50 (+5.9%) ke Rp 890, ISAT naik Rp 150 (+2.4%) ke Rp 6,250, UNVR naik
Rp 100 (+1.4%) ke Rp 7,100 dan ELTY naik Rp 25 (+7.3%) ke Rp 365.
Investor asing melakukan pembelian bersih Rp 143 miliar. Nilai tukar rupiah
di pasar spot antar-bank Jakarta pada perdagangan kemarin (07/08) ditutup
terkoreksi 20 poin berada di level 9,095 per dolar AS.
pilihan
PT Medco Energi Internasional (MEDC) telah
mendapatkan komitmen pinjaman jangka panjang dari JBIC
sebesar USD 178 juta (Rp 1,6 triliun) atau 30% dari total
kebutuhan investasi untuk proyek Senoro dan PLTP Sarulla.
Selain itu MEDC juga membutuhkan dana sebesar USD 600
juta untuk mengembangkan proyek Area 47 di Libya. Area 47
dikatakan mempunyai sumber daya minyak sebesar 339,5
juta barel (lebih besar dari seluruh cadangan MEDC saat ini)
dan gas sebesar 341,5 miliar kaki kubik. Dana yang
dibutuhkan akan didapatkan dari divestasi PT Apexindo
Pratama Duta (APEX)—telah disetujui di RUPSLB yang
telah diselenggarakan kemarin—dan penjualan 7 aset migas
mereka.
ST : Buy
Permasalahan tunggakan royalti perusahaan batubara
Indonesia masih tetap berlanjut. Pemerintah memaksakan
para pengusaha untuk membayar hutang royalti mereka
sedangkan para pengusaha meminta jaminan pemerintah
untuk mengembalikan restitusi pajak dan mencabut
pencekalan. Berlarut-larutnya masalah ini malah
menunjukkan ketidakpastian hukum di Indonesia dan
berpotensi untuk memperburuk iklim investasi.
PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memprediksi
penurunan pendapatan 11% pada tahun ini akibat penurunan
tarif yang dilakukan oleh Telkomsel. EBITDA pada 1H2008
menurun menjadi 60.3% dari tahun sebelumnya yang
mencapai 63.8%. TLKM membukukan penurunan laba bersih
4.94% menjadi Rp6.29 triliun pada semester pertama tahun
ini. Telkomsel yang merupakan anak perusahaan TLKM harus
bersaing keras dengan operator-operator lainnya seperti
Indosat (ISAT) dan XL (EXCL) untuk merebut pangsa pasar
GSM. Kerasnya persaingan menyebabkan perang tarif tidak
terhindarkan.
ST : Buy LT : Buy
Empat bank telah berkomitmen untuk membiayai proyek
property anak perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA),
PT Wijaya Karya Realty, sebesar Rp400 miliar. Sebagian dana
digunakan untuk membiayai proyek di tiga kota yaitu
Balikpapan,Samarinda dan Jakarta . Empat bank sumber
pembiayaan tersebut adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk,
PT Bank Bukopin Tbk, PT Bank Mega Tbk dan PT Bank CIMB
Niaga Tbk. Total nilai proyek adalah Rp600 miliar, dimana
sisa Rp200 miliar akan menggunakan dana internal.
ST : Buy LT : Buy
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) optimis dapat meningkatkan
pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 30%
hingga akhir tahun ini. BMRI sendiri telah menurunkan target
pertumbuhan total kredit dari 22% menjadi 18%. Keyakinan
BMRI didasarkan atas masih berpeluangnya pertumbuhan
KPR bagi segmen menengah atas. Hingga Juni 2008, portfolio
KPR Bank Mandiri mencapai Rp10.9 triliun yang berarti
mengalami peningkatan 23.61% dari posisi Desember 2007
sebesar Rp8.82 triliun.
ST : Hold LT : Buy
mendapatkan komitmen pinjaman jangka panjang dari JBIC
sebesar USD 178 juta (Rp 1,6 triliun) atau 30% dari total
kebutuhan investasi untuk proyek Senoro dan PLTP Sarulla.
Selain itu MEDC juga membutuhkan dana sebesar USD 600
juta untuk mengembangkan proyek Area 47 di Libya. Area 47
dikatakan mempunyai sumber daya minyak sebesar 339,5
juta barel (lebih besar dari seluruh cadangan MEDC saat ini)
dan gas sebesar 341,5 miliar kaki kubik. Dana yang
dibutuhkan akan didapatkan dari divestasi PT Apexindo
Pratama Duta (APEX)—telah disetujui di RUPSLB yang
telah diselenggarakan kemarin—dan penjualan 7 aset migas
mereka.
ST : Buy
Permasalahan tunggakan royalti perusahaan batubara
Indonesia masih tetap berlanjut. Pemerintah memaksakan
para pengusaha untuk membayar hutang royalti mereka
sedangkan para pengusaha meminta jaminan pemerintah
untuk mengembalikan restitusi pajak dan mencabut
pencekalan. Berlarut-larutnya masalah ini malah
menunjukkan ketidakpastian hukum di Indonesia dan
berpotensi untuk memperburuk iklim investasi.
PT Telekomunikasi Indonesia (TLKM) memprediksi
penurunan pendapatan 11% pada tahun ini akibat penurunan
tarif yang dilakukan oleh Telkomsel. EBITDA pada 1H2008
menurun menjadi 60.3% dari tahun sebelumnya yang
mencapai 63.8%. TLKM membukukan penurunan laba bersih
4.94% menjadi Rp6.29 triliun pada semester pertama tahun
ini. Telkomsel yang merupakan anak perusahaan TLKM harus
bersaing keras dengan operator-operator lainnya seperti
Indosat (ISAT) dan XL (EXCL) untuk merebut pangsa pasar
GSM. Kerasnya persaingan menyebabkan perang tarif tidak
terhindarkan.
ST : Buy LT : Buy
Empat bank telah berkomitmen untuk membiayai proyek
property anak perusahaan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA),
PT Wijaya Karya Realty, sebesar Rp400 miliar. Sebagian dana
digunakan untuk membiayai proyek di tiga kota yaitu
Balikpapan,Samarinda dan Jakarta . Empat bank sumber
pembiayaan tersebut adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk,
PT Bank Bukopin Tbk, PT Bank Mega Tbk dan PT Bank CIMB
Niaga Tbk. Total nilai proyek adalah Rp600 miliar, dimana
sisa Rp200 miliar akan menggunakan dana internal.
ST : Buy LT : Buy
PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) optimis dapat meningkatkan
pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) sebesar 30%
hingga akhir tahun ini. BMRI sendiri telah menurunkan target
pertumbuhan total kredit dari 22% menjadi 18%. Keyakinan
BMRI didasarkan atas masih berpeluangnya pertumbuhan
KPR bagi segmen menengah atas. Hingga Juni 2008, portfolio
KPR Bank Mandiri mencapai Rp10.9 triliun yang berarti
mengalami peningkatan 23.61% dari posisi Desember 2007
sebesar Rp8.82 triliun.
ST : Hold LT : Buy
MARKET OUTLOOK
Friday, August 8, 2008 Indonesia shares are likely to continue to trade within a consolidation range as gains from buying in commodity-related stocks will be offset by selling in most non-commodity related stocks following mild rebound in commodity prices due to lower oil prices.There is a very interesting study about the movement of oil prices... Whenever theglobal economy recovers, the oil prices may resume its journey to the North. Timing would not be more than three months after I write this outlook...So, investment horizon and set are playing big roles at present. If you are long term lovers, I believe that your holding in commodity-related stocks would give you significant returns. If you are short term players, you are then playing and scaling your guts every time you hit either the buy or the sell buttons.Today we would see our lovely stock market moving in a directionless mode but in a more attractive way than yesterday.The main index may go up and down by 29 points to reflect a beta trade of 1.3 times.Main index: 2170-2222 TLKM: 7,700-8,200. It may remain moving within this range, with any success breaking above the resistance level of 8,000, would drive the share price to test another high of 8,200. Otherwise, it would move on the other way around... PTBA: 12,200-13,600. It has shown some impressive movement so far, but I still fear of sudden correction given its expensive status. BUY on weakness. BUMI: 5,000-6,000. There has been a shift of support level from IDR4,800 to IDR5,000 which could assure a temporary consolidation. Buy at any level when it breaks above IDR5,500-breakout level. Fundamentals are sound with second half period may improving significantly given new selling prices of coal and an increase in volumes. TINS: 28,200-32,000. There is an short term investment risk in these shares as the local administration of Bangka will likely ask Timah to increase its royalty payment to the administration to 6% from 3% at present. On fundamental basis, Timah is trading below its fair value of IDR34,000 basedon business outlook model for next year. Best buy is at any level below IDr28,000. MEDC: 4,800-5,200. It may be trading wide, but would suffer from suddenh correction if it fails to break above IDr5,resistance levelevel. The company is likely to diversify its business to non gas and oil business like food and agricultural sector. It is too early and sketchy to value its new plan of business diversification... It, however, has started with selling of its stake in Apexindo which would drive its 2008 net profit to jump significantly from 2007. Fair value is atIDR6,400. BBCA: 2,850-3,100. On chart reading, BCA may suffer from mild correction. BUY on weakness. BMRI: 2,850-3,200. It is now trading at a PBV of 1.9 times, way below the average of the banking industry. Fair value remains at IDR3,900 based on DCF. First half net profit will likely up due to its sizable holding in government bonds. Accumulate at the LOWER end of the range BBRI: 6,000-6,400. It may find a strong resistance at IDR6,400 which could become a level of profit taking by retail investors. If not broken, the share price may be facing hard landing. SPECIAL MENTION: CPIN: 830-1,200. 2008 net profit likely more than doubled to IDR420 billion, with sales jumping more than 50%.This could could reflect growing business despite high inflation. 12-month target is at IDR1,600 BUY on weakness. MONITORING: CTRS: 480-590 BBNI: 1,290-1,550TBLA: 540-650 SMRA: 340-410LSIP: 6,200-7,500 KAEF: 140-180 PNBN: 830-960 CTRA: 470-540
Market Movements
Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin masih bergerak
cukup volatile dan akhirnya mampu menguat di akhir-akhir
perdagangan. Investor terlihat masih belum sepenuhnya yakin untuk
mulai masuk ke bursa, khususnya sektor komoditas seiring masih
melemahnya harga komoditas dunia. Kemarin, indeks ditutup
menguat 0,53% ke level 2199.
Sementara bursa US pada perdagangan semalam, ditutup
melemah signifikan. Berakhirnya rally selama 2 hari ini disebabkan
oleh meningkatnya data pengangguran di US pada pekan kemarin
yang mencapai level tertinggi sejak Maret 2002, akibat PHK yang
dilakukan oleh General Motors Corp, Weyerhaeuser Co. dan Starbucks
Corp. Hal ini juga diperparah oleh sentimen negatif dari sektor retail
yang membukukan penurunan penjualan, serta kerugian dari
perusahaan asuransi American International Group Inc. sebesar US$5
miliar. Terkait hal ini, mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada
perdagangan hari ini.
Bursa Indonesia sendiri diperkirakan akan ikut terimbas
pelemahan bursa US dan regional. Masih belum membaiknya harga
komoditas dunia membuat bursa Indonesia tidak memiliki katalis
untuk menguat. Indeks diperkirakan akan kembali bergerak sideways
dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan indeks akan
berada pada kisaran 2170 - 2210.
• MEDC: Investasi di Libya US$600 Juta (Bisnis)
• Economic: Tarif PPh konstruksi hingga 6% (kontan)
• BMRI: Direstui akuisisi Indover (investor)
• BNII: Maybank tetap lanjutkan akusisi (Investor)
• IPO: PTPN III naikkan IPO jadi Rp2 T (kontan)
Technical Picks :
• BUMI (Rp 5.350) - BUY
• BMRI (Rp 3.025) - SELL
• PNBN (Rp 890) – Sell on Strength
• SGRO (Rp 2.550) - BUY
cukup volatile dan akhirnya mampu menguat di akhir-akhir
perdagangan. Investor terlihat masih belum sepenuhnya yakin untuk
mulai masuk ke bursa, khususnya sektor komoditas seiring masih
melemahnya harga komoditas dunia. Kemarin, indeks ditutup
menguat 0,53% ke level 2199.
Sementara bursa US pada perdagangan semalam, ditutup
melemah signifikan. Berakhirnya rally selama 2 hari ini disebabkan
oleh meningkatnya data pengangguran di US pada pekan kemarin
yang mencapai level tertinggi sejak Maret 2002, akibat PHK yang
dilakukan oleh General Motors Corp, Weyerhaeuser Co. dan Starbucks
Corp. Hal ini juga diperparah oleh sentimen negatif dari sektor retail
yang membukukan penurunan penjualan, serta kerugian dari
perusahaan asuransi American International Group Inc. sebesar US$5
miliar. Terkait hal ini, mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada
perdagangan hari ini.
Bursa Indonesia sendiri diperkirakan akan ikut terimbas
pelemahan bursa US dan regional. Masih belum membaiknya harga
komoditas dunia membuat bursa Indonesia tidak memiliki katalis
untuk menguat. Indeks diperkirakan akan kembali bergerak sideways
dengan kecenderungan melemah. Rentang pergerakan indeks akan
berada pada kisaran 2170 - 2210.
• MEDC: Investasi di Libya US$600 Juta (Bisnis)
• Economic: Tarif PPh konstruksi hingga 6% (kontan)
• BMRI: Direstui akuisisi Indover (investor)
• BNII: Maybank tetap lanjutkan akusisi (Investor)
• IPO: PTPN III naikkan IPO jadi Rp2 T (kontan)
Technical Picks :
• BUMI (Rp 5.350) - BUY
• BMRI (Rp 3.025) - SELL
• PNBN (Rp 890) – Sell on Strength
• SGRO (Rp 2.550) - BUY
PILIHAN
ELTY Naik Pesat 7,35%
Saham emiten properti milik grup Bakrie, PT
Bakrieland Development (ELTY) pada
perdagangan kemarin (7/8) berhasil rebound.
Saham ELTY berhasil naik Rp 25 atau naik
7,35% dan ditutup pada level Rp 365. Kenaikan
ini lantaran aksi beli kembali investor setelah
dalam beberapa hari sebelumnya melemah dan
dikombinasi dengan turunnya harga minyak.
Selain itu kabar bahwa keluarga Bakrie akan
menambah kepemilikannnya di ELTY juga
menjadi tambahan bahan bakar kenaikan saham
ELTY kemarin. Secara teknikal, bila pada
perdagangan hari ini (8/8) ELTY berhasil naik,
maka ELTY dalam jangka pendek berpotensi
menguat. Hal ini karena secara candle saham
ELTY telah membentuk pola bullish engulfing.
Support saham ELTY di Rp 325 dan Resistance
level di Rp 380.
Rekomendasi : Medium Term Buy
Support Rp 325
Resistance Rp 380
AALI Bergerak Turun, Akan Coba Rebound
Dalam Jangka Pendek
Emiten saham perkebunan milik grup Astra , PT
Astra Agro Lestari (AALI) kemarin (7/8)
bergerak negatif. Saham AALI anjlok turun Rp
300 atau turun 1,56% dan ditutup pada level
harga Rp 18.900. Turunnya saham AALI
kemarin disebabkan oleh masih melemahnya
harga komoditas menjadi sentimen negatif atas
saham AALI. Akan tetapi dalam jangka pendek
saham AALI berpotensi untuk rebound. Pasalnya
indikator RSI (Relative Strength Index) saham
AALI sudah menunjukkan saham AALI berada
pada area jenuh jual. Saham AALI saat ini
memiliki nilai RSI sebesar 27,89 atau sudah
berada di bawah 30,00 yang artinya sudah jenuh
jual.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 17.850
Resistance Rp 23.900
SGRO Akan Coba Rebound Hari ini
Saham emiten perkebunan , PT Sampoerna Agro
pada perdagangan hari ini (8/8) diperkirakan
akan mencoba rebound setelah beberapa hari ini
tertekan. Selain itu kembali naiknya harga CPO
kemarin mengiringi naiknya harga minyak akan
menjadi sentimen positif bagi SGRO dalam
jangka pendek. Secara teknikal saham SGRO
juga berpotensi untuk naik. Hal ini karena saham
SGRO saat ini sudah masuk dalam kategori
saham yang sudah jenuh jual ditunjukkan dengan
indikator RSI saham SGRO yang sudah berada di
bawah level 30,00. Support saham SGRO di level
Rp 2500 dan Resistance di level Rp 3300.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2500
Resistance Rp 3300
Harga Batubara Kembali Naik, Saham BUMI
Menarik
Harga batubara semalam terpantau naik pesat
sebesar US$ 4 menjadi berada pada level US$
123 per MT. Hal ini tentunya akan menjadi
sentiment positif atas emiten batubara , PT Bumi
Resources (BUMI) pada perdagangan hari ini
(8/8). Indikator RSI saham BUMI juga
menunjukkan saham BUMI relative sedang jenuh
jual ditandai dengan nilai RSI saham BUMI saat
ini sebesar 32,85 atau dekat dengan level 30,00.
Saat ini saham BUMI berada pada level Rp 5350.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 4900
Resistance Rp 6300
Saham emiten properti milik grup Bakrie, PT
Bakrieland Development (ELTY) pada
perdagangan kemarin (7/8) berhasil rebound.
Saham ELTY berhasil naik Rp 25 atau naik
7,35% dan ditutup pada level Rp 365. Kenaikan
ini lantaran aksi beli kembali investor setelah
dalam beberapa hari sebelumnya melemah dan
dikombinasi dengan turunnya harga minyak.
Selain itu kabar bahwa keluarga Bakrie akan
menambah kepemilikannnya di ELTY juga
menjadi tambahan bahan bakar kenaikan saham
ELTY kemarin. Secara teknikal, bila pada
perdagangan hari ini (8/8) ELTY berhasil naik,
maka ELTY dalam jangka pendek berpotensi
menguat. Hal ini karena secara candle saham
ELTY telah membentuk pola bullish engulfing.
Support saham ELTY di Rp 325 dan Resistance
level di Rp 380.
Rekomendasi : Medium Term Buy
Support Rp 325
Resistance Rp 380
AALI Bergerak Turun, Akan Coba Rebound
Dalam Jangka Pendek
Emiten saham perkebunan milik grup Astra , PT
Astra Agro Lestari (AALI) kemarin (7/8)
bergerak negatif. Saham AALI anjlok turun Rp
300 atau turun 1,56% dan ditutup pada level
harga Rp 18.900. Turunnya saham AALI
kemarin disebabkan oleh masih melemahnya
harga komoditas menjadi sentimen negatif atas
saham AALI. Akan tetapi dalam jangka pendek
saham AALI berpotensi untuk rebound. Pasalnya
indikator RSI (Relative Strength Index) saham
AALI sudah menunjukkan saham AALI berada
pada area jenuh jual. Saham AALI saat ini
memiliki nilai RSI sebesar 27,89 atau sudah
berada di bawah 30,00 yang artinya sudah jenuh
jual.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 17.850
Resistance Rp 23.900
SGRO Akan Coba Rebound Hari ini
Saham emiten perkebunan , PT Sampoerna Agro
pada perdagangan hari ini (8/8) diperkirakan
akan mencoba rebound setelah beberapa hari ini
tertekan. Selain itu kembali naiknya harga CPO
kemarin mengiringi naiknya harga minyak akan
menjadi sentimen positif bagi SGRO dalam
jangka pendek. Secara teknikal saham SGRO
juga berpotensi untuk naik. Hal ini karena saham
SGRO saat ini sudah masuk dalam kategori
saham yang sudah jenuh jual ditunjukkan dengan
indikator RSI saham SGRO yang sudah berada di
bawah level 30,00. Support saham SGRO di level
Rp 2500 dan Resistance di level Rp 3300.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2500
Resistance Rp 3300
Harga Batubara Kembali Naik, Saham BUMI
Menarik
Harga batubara semalam terpantau naik pesat
sebesar US$ 4 menjadi berada pada level US$
123 per MT. Hal ini tentunya akan menjadi
sentiment positif atas emiten batubara , PT Bumi
Resources (BUMI) pada perdagangan hari ini
(8/8). Indikator RSI saham BUMI juga
menunjukkan saham BUMI relative sedang jenuh
jual ditandai dengan nilai RSI saham BUMI saat
ini sebesar 32,85 atau dekat dengan level 30,00.
Saat ini saham BUMI berada pada level Rp 5350.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 4900
Resistance Rp 6300
Market
IHSG Naik Tipis
IHSG kemarin berakhir bullish atau menguat naik 0,54% atau naik
11,807 poin dan ditutup pada level 2199,011. Indeks LQ45 juga ditutup
menguat naik 0,64% atau naik 2,882 poin dan ditutup pada level
455,005. Kenaikan ini ditunjang oleh kenaikan sejumlah saham
unggulan yang dikoleksi kembali oleh investor.
Pergerakan saham kemarin bergerak mixed di semua sektor industri.
Saham – saham unggulan yang naik pesat hari ini adalah saham ELTY
naik 7,35% jadi Rp 365, PTBA naik 4,12% jadi Rp 12650, BBRI naik
3,31% jadi Rp 6250 dan GGRM naik 3,08% jadi Rp 6700. Sementara itu
saham –saham unggulan yang terpuruk kemarin adalah INDF turun
3,45% jadi Rp 2100, GZCO turun 2,5% jadi Rp 195 , PGA Sturun
2,02% jadi Rp 2425 dan AALI turun 1,56% jadi Rp 18.900.
Wall Street Anjlok, Data Keuangan yang Memburuk
Bursa Wall Street semalam terpantau bergerak di teritori negatif setelah
minyak kembali menguat di atas level $120. Melesetnya target dari AIG
dan Wal-Mart juga menjadi faktor utama yang menekan bursa. Saham
AIG anjlok 18% ke level $23.84 menyusul laporan kerugian 51 sen per
lembar saham yang meleset dari ekspektasi para analis yang
memproyeksikan laba. Hal ini diperkirakan akan menjadi sentimen
negatif atas saham perbankan pada hari ini
Sementara itu penjualan Wal-Mart yang meleset dari ekspektasi juga
mengakibatkan sahamnya anjlok 6.25% ke level $56.96. Target yang
meleset dari kedua perusahaan ini mengakibatkan sentimen negatif yang
besar terhadap bursa Wall Street. Sementara itu, minyak yang menguat
sebanyak $1.44 ke level $120.02 per barrel turut mendorong laju
pelemahan bursa.
IHSG Diterpa Berbagai Sentimen Negatif
IHSG pada perdagangan hari ini (8/8) kemungkinan akan melemah
menyusul bursa regional yang dibuka melemah pagi ini dan juga bursa
AS yang anjlok semalam. Selain itu buruknya data- data keuangan
emiten besar di AS seperti AIG dan Wall Mart semakin menegaskan
indikasi adanya resesi global akan menjadi sentiment negatif tambahan
di bursa hari ini.
Saham berbasis komoditas pada hari ini diperkirakan akan mencoba naik
menyusul kembali naiknya harga minyak diatas level US$ 120 per barel
akan menjadi bahan bakar kenaikan saham komoditas pada hari ini.
Apalagi belakangan ini saham komdoitas telah tertekan cukup dalam.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada perdagangan hari ini
adalah saham pertambangan dan perkebunan menyusul naiknya harga
minyak dengan rekomendasi buy on weakness. Saham – saham yang
menarik adalah saham BUMI, PGAS, TINS, ANTM, ELSA, MIRA,
MEDC, ENRG, PGAS, TINS , AALI, TBLA, SGRO, dan LSIP.
IHSG kemarin berakhir bullish atau menguat naik 0,54% atau naik
11,807 poin dan ditutup pada level 2199,011. Indeks LQ45 juga ditutup
menguat naik 0,64% atau naik 2,882 poin dan ditutup pada level
455,005. Kenaikan ini ditunjang oleh kenaikan sejumlah saham
unggulan yang dikoleksi kembali oleh investor.
Pergerakan saham kemarin bergerak mixed di semua sektor industri.
Saham – saham unggulan yang naik pesat hari ini adalah saham ELTY
naik 7,35% jadi Rp 365, PTBA naik 4,12% jadi Rp 12650, BBRI naik
3,31% jadi Rp 6250 dan GGRM naik 3,08% jadi Rp 6700. Sementara itu
saham –saham unggulan yang terpuruk kemarin adalah INDF turun
3,45% jadi Rp 2100, GZCO turun 2,5% jadi Rp 195 , PGA Sturun
2,02% jadi Rp 2425 dan AALI turun 1,56% jadi Rp 18.900.
Wall Street Anjlok, Data Keuangan yang Memburuk
Bursa Wall Street semalam terpantau bergerak di teritori negatif setelah
minyak kembali menguat di atas level $120. Melesetnya target dari AIG
dan Wal-Mart juga menjadi faktor utama yang menekan bursa. Saham
AIG anjlok 18% ke level $23.84 menyusul laporan kerugian 51 sen per
lembar saham yang meleset dari ekspektasi para analis yang
memproyeksikan laba. Hal ini diperkirakan akan menjadi sentimen
negatif atas saham perbankan pada hari ini
Sementara itu penjualan Wal-Mart yang meleset dari ekspektasi juga
mengakibatkan sahamnya anjlok 6.25% ke level $56.96. Target yang
meleset dari kedua perusahaan ini mengakibatkan sentimen negatif yang
besar terhadap bursa Wall Street. Sementara itu, minyak yang menguat
sebanyak $1.44 ke level $120.02 per barrel turut mendorong laju
pelemahan bursa.
IHSG Diterpa Berbagai Sentimen Negatif
IHSG pada perdagangan hari ini (8/8) kemungkinan akan melemah
menyusul bursa regional yang dibuka melemah pagi ini dan juga bursa
AS yang anjlok semalam. Selain itu buruknya data- data keuangan
emiten besar di AS seperti AIG dan Wall Mart semakin menegaskan
indikasi adanya resesi global akan menjadi sentiment negatif tambahan
di bursa hari ini.
Saham berbasis komoditas pada hari ini diperkirakan akan mencoba naik
menyusul kembali naiknya harga minyak diatas level US$ 120 per barel
akan menjadi bahan bakar kenaikan saham komoditas pada hari ini.
Apalagi belakangan ini saham komdoitas telah tertekan cukup dalam.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada perdagangan hari ini
adalah saham pertambangan dan perkebunan menyusul naiknya harga
minyak dengan rekomendasi buy on weakness. Saham – saham yang
menarik adalah saham BUMI, PGAS, TINS, ANTM, ELSA, MIRA,
MEDC, ENRG, PGAS, TINS , AALI, TBLA, SGRO, dan LSIP.
Wednesday, August 6, 2008
berita
PGAS: 5 Asosiasi manufaktur tolak skema harga PGAS
(investor)
Sebanyak 5 asosiasi industri nasional yakni ASTA, Asaki, Inaplas,
APKI, dan APKLP menolak penetapan harga gas industri yang akan
diterapkan oleh PGAS karena dilakukan sepihak bisa berakibat
merugikan usaha nasional.
HEXA: peroleh kontrak KPC Rp5,52 T (investor)
HEXA segera peroleh kontrak pengadaan alat berat dari PT
Kaltim Prima Coal berupa: excavator sebanyak 25-30 unit
berkapasitas 250-800 ton senilai US$2,6-13 juta; 4 giant
excavator berkapasitas 800 ton senilai US$13 juta; dan 130-
140 dump truck berkapasitas 450 ton senilai US$2 juta,
dengan total nilai US$600 juta atau Rp5,52 triliun.
Penandatangan kontrak dilakukan dalam 2 minggu ini.
Commodity: Indek Batu-bara Indonesia
Pemerintah akan membuat Benchmark index batu-bara
bulanan. Harga export seharusnya di jual lebih tinggi dari
nilai benchmark. Pajak pendapatan dari royalty batu-bara
sebesar 13,5% diambil dari total penjualan batu-bara. Total
produksi batu-bara tahun ini diperkirakan naik 9% menjadi
235juta metric tons, dan 180 juta untuk export.
Today Crude Oil
Harga Crude Oil Steady
setelah Adanya penguatan
nilai dollar
Harga minyak naik 15 cent
dari penutupan harga
kemarin ke $118,73.
Kenaikan ini disebabkan
menguatnya nilai dollar
terhadap nilai euro, kemarin
nilai dollar ditutup $1,5398
per euro, terkuat sejak
sejak 16 Juni. Pada
perdagangan hari ini nilai
dolar diperdagangkan
$1,5407 per euro di Tokyo.
Sementara persediaan
minyak naik 1,61 juta barrel
minggu lalu dan konsumsi
bensin pada bulan Juni
berkurang 2,6% YoY.
WIKA: raih proyek baru Rp5,87 T (investor)
Selama 1H08, WIKA meraih proyek baru sebesar Rp5,87
triliun berupa industri perdagangan Rp2,08 triliun;
powerplant Rp1,37 triliun; pengembangan industri Rp742
miliar; pembangunan irigasi, dermaga dan bendungan Rp628
miliar; konstruksi gedung Rp481 miliar; jalan dan jembatan
Rp400 miliar; serta WIKA Realty peroleh kontrak baru Rp154
miliar. Jadi total proyek yang tengah digarap mencapai
Rp12,4 triliun dengan target pendapatan senilai Rp6,05
triliun.
Infrastructure: Kontraktor merugi (kompas)
Lima assosiasi kontraktor mengancam berhenti menyelesaikan proyek
infrastruktur pemerintah, karena tidak ada ekalasi untuk kenaikan
harga bahan baku yang mencapai 30% tahun ini. Harga material naik
pesat tahun ini, Baja +80-100%, aspal +49%, semen +25% dan BBM
industri +50%.
INDF: Salim Ivomas Rampungkan Akuisisi Lajuperdana
(Bisnis)
Salim ivomas, anak usaha INDF menuntaskan akuisisi
sebanyak 187.500 saham baru di PT Lajuperdana indah
sebesar Rp375 Miliar.
SMGR: Incar Pinjaman Rp5 Triliun (Bisnis)
SMGR tengah mencari pinjaman sebesar Rp5 Triliun, untuk
akuisisi perusahaan semen, perusahaan transportasi dan
kertas kantong semen.
ENRG: Akuisisi 3 Aset Migas US$200 Juta (Bisnis)
ENRG berencana akuisisi 2 sampai 3 aset migas baru guna
menggenjot kapasitas produksi 30%, untuk itu ENRG
membutuhkan dana sebesar US$100-20 Juta atau senilai
Rp910-Rp1,82 Triliun. Aset tersebut memiliki sumber daya
total sebanyak 100-200 mmboe (Juta barel setara minyak).
Economic: China kembangkan Padi Hibrida ke II (kompas)
Akhirnya, China berhasil kembangkan padi hibrida generasi kedua atau
hibrida- transgenik dimana toleran terhadap serangan serangga dan
segera memasarkannya, guna menghilangnya potensi hasil lebih dari
5% atau 10 juta ton gabah.
(investor)
Sebanyak 5 asosiasi industri nasional yakni ASTA, Asaki, Inaplas,
APKI, dan APKLP menolak penetapan harga gas industri yang akan
diterapkan oleh PGAS karena dilakukan sepihak bisa berakibat
merugikan usaha nasional.
HEXA: peroleh kontrak KPC Rp5,52 T (investor)
HEXA segera peroleh kontrak pengadaan alat berat dari PT
Kaltim Prima Coal berupa: excavator sebanyak 25-30 unit
berkapasitas 250-800 ton senilai US$2,6-13 juta; 4 giant
excavator berkapasitas 800 ton senilai US$13 juta; dan 130-
140 dump truck berkapasitas 450 ton senilai US$2 juta,
dengan total nilai US$600 juta atau Rp5,52 triliun.
Penandatangan kontrak dilakukan dalam 2 minggu ini.
Commodity: Indek Batu-bara Indonesia
Pemerintah akan membuat Benchmark index batu-bara
bulanan. Harga export seharusnya di jual lebih tinggi dari
nilai benchmark. Pajak pendapatan dari royalty batu-bara
sebesar 13,5% diambil dari total penjualan batu-bara. Total
produksi batu-bara tahun ini diperkirakan naik 9% menjadi
235juta metric tons, dan 180 juta untuk export.
Today Crude Oil
Harga Crude Oil Steady
setelah Adanya penguatan
nilai dollar
Harga minyak naik 15 cent
dari penutupan harga
kemarin ke $118,73.
Kenaikan ini disebabkan
menguatnya nilai dollar
terhadap nilai euro, kemarin
nilai dollar ditutup $1,5398
per euro, terkuat sejak
sejak 16 Juni. Pada
perdagangan hari ini nilai
dolar diperdagangkan
$1,5407 per euro di Tokyo.
Sementara persediaan
minyak naik 1,61 juta barrel
minggu lalu dan konsumsi
bensin pada bulan Juni
berkurang 2,6% YoY.
WIKA: raih proyek baru Rp5,87 T (investor)
Selama 1H08, WIKA meraih proyek baru sebesar Rp5,87
triliun berupa industri perdagangan Rp2,08 triliun;
powerplant Rp1,37 triliun; pengembangan industri Rp742
miliar; pembangunan irigasi, dermaga dan bendungan Rp628
miliar; konstruksi gedung Rp481 miliar; jalan dan jembatan
Rp400 miliar; serta WIKA Realty peroleh kontrak baru Rp154
miliar. Jadi total proyek yang tengah digarap mencapai
Rp12,4 triliun dengan target pendapatan senilai Rp6,05
triliun.
Infrastructure: Kontraktor merugi (kompas)
Lima assosiasi kontraktor mengancam berhenti menyelesaikan proyek
infrastruktur pemerintah, karena tidak ada ekalasi untuk kenaikan
harga bahan baku yang mencapai 30% tahun ini. Harga material naik
pesat tahun ini, Baja +80-100%, aspal +49%, semen +25% dan BBM
industri +50%.
INDF: Salim Ivomas Rampungkan Akuisisi Lajuperdana
(Bisnis)
Salim ivomas, anak usaha INDF menuntaskan akuisisi
sebanyak 187.500 saham baru di PT Lajuperdana indah
sebesar Rp375 Miliar.
SMGR: Incar Pinjaman Rp5 Triliun (Bisnis)
SMGR tengah mencari pinjaman sebesar Rp5 Triliun, untuk
akuisisi perusahaan semen, perusahaan transportasi dan
kertas kantong semen.
ENRG: Akuisisi 3 Aset Migas US$200 Juta (Bisnis)
ENRG berencana akuisisi 2 sampai 3 aset migas baru guna
menggenjot kapasitas produksi 30%, untuk itu ENRG
membutuhkan dana sebesar US$100-20 Juta atau senilai
Rp910-Rp1,82 Triliun. Aset tersebut memiliki sumber daya
total sebanyak 100-200 mmboe (Juta barel setara minyak).
Economic: China kembangkan Padi Hibrida ke II (kompas)
Akhirnya, China berhasil kembangkan padi hibrida generasi kedua atau
hibrida- transgenik dimana toleran terhadap serangan serangga dan
segera memasarkannya, guna menghilangnya potensi hasil lebih dari
5% atau 10 juta ton gabah.
Market Movement
IHSG ditutup menguat tipis pada Rabu, 6 Agustus 2008 sebesar 0.07% (1.58 poin) dengan nilai transaksi yang cukup besar mencapai Rp5.2 triliun. Penguatan IHSG ditopang oleh sektor infrastruktur (naik 1.43%) dan konsumsi (naik 1.24%).Kerugian sangat besar yang diderita oleh salah satu penjamin kredit perumahan terbesar di Amerika Serikat, Freddie Mac menandakan bahwa housing crisis belum akan berakhir dalam waktu dekat. Kami mengekspektasikan bahwa Federal Reserve akan tetap menahan suku bunga pada level 2% setidaknya sampai akhir tahun 2008. Rapat European Central Bank yang akan diadakan pada 8 Agustus diyakini akan menghasilkan keputusan untuk menahan suku bunga Euro Zone di level 4.25% menyusul melemahnya pertumbuhan ekonomi Eropa secara umum. Ekpekstasi tertahannya suku bunga Euro Zone memberikan sentiment positif pada US Dollar. Kenaikan US Dollar mempunyai implikasi negatif terhadap harga minyak duni. PGAS menjadi leading mover dengan kenaikan tajam sebesar 11.23% menyusul wacana diizinkannya PGAS menentukan sendiri harga jual oleh pemerintah. Saham PGAS ditutup pada level Rp2475/shm. Sementara itu MEDC pada perdagangan kemarin juga menguat secara signifikan sebanyak 9% dan ditutup pada level Rp5050/shm menyusul sentimen positif dari pengumuman Verenex Energy (operator MEDC di Libya) yang menyatakan bahwa konsesi Libya mempunyai discovered resources sebanyak 396mmBOE. Harga minyak dunia melemah tipis 0.5% pada perdagangan di New York , ditutup pada level US$118.58. PGAS, MEDC dan ASII berpotensi untuk melanjutkan kenaikan sahamnya pada hari ini.
Highlights
`HEXA raih kontrak Rp 5,52 triliun
`ENRG sedang memfinalisasi proses akuisisi tiga asset migas baru
`PT Bayan Resources batalkan 125 juta saham untuk redshoe
`INCO, laba bersih 1H08 turun 58,2% yoy
`Maybank diizinkan melepas BNII dalam lima tahun
`WIKA amankan 77% perolehan kontrak 2008
`Malaysia kelebihan stock CPO 2.1 juta ton
`EXCL incar posisi operator peringkat dua
Highlights
`HEXA raih kontrak Rp 5,52 triliun
`ENRG sedang memfinalisasi proses akuisisi tiga asset migas baru
`PT Bayan Resources batalkan 125 juta saham untuk redshoe
`INCO, laba bersih 1H08 turun 58,2% yoy
`Maybank diizinkan melepas BNII dalam lima tahun
`WIKA amankan 77% perolehan kontrak 2008
`Malaysia kelebihan stock CPO 2.1 juta ton
`EXCL incar posisi operator peringkat dua
HIGHLIGHTS
Saham PGAS Kembali Diburu
Saham emiten utilitas gas , PT Gas Negara
(PGAS) pada perdagangan kemarin (6/8) berhasil
rebound. Saham PGAS berhasil naik Rp 250 atau
naik 11,24% dan ditutup pada level harga Rp
2.475. Kenaikan saham PGAS ini lantaran aksi
beli kembali saham PGAS setelah beberapa hari
sebelumnya turun pesat. Akan tetapi investor
sebaiknya wait and see terlebih dahulu menunggu
konfirmasi penjelasan dari PGAS. Pasalnya di
pasar berhembus kabar bahwa perseroan kedepan
akan memangkas target penjualan perseroan
menyusul proyek-proyek perseroan yang
diperkirakan penyelesaiannya terhambat..
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 2250
Resistance Rp 2800
LSIP Tergerus Anjloknya CPO
Saham emiten perkebunan , PT London Sumatera
Plantation (LSIP) pada perdagangan kemarin
(6/8) anjlok. Saham LSIP kemarin turun Rp 350
atau turun 4,90% dan ditutup pada level harga Rp
6800. Turunnya saham LSIP ini lantaran
turunnya harga CPO sehari sebelumnya di bursa
berjangka Malaysia yang membuat investor
melakukan aksi jual atas saham LSIP kemarin.
Semalam harga minyak melemah di level US$
118 per barel. Hal ini tentunya akan menjadi
sentimen negatif atas saham LSIP pada
perdagangan hari ini. Secara teknikal hal ini juga
ditunjukan dengan indikator MACD yang masih
menunjukkan saham LSIP masih berada di area
bearish. Support saham LSIP dilevel Rp 5450
dan resistance di Rp 8100.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 5450
Resistance Rp 8100
ASII Masih Berpotensi Naik
Saham emiten konglomerasi, PT Astra
International Indonesia (ASII) dalam jangka
pendek berpotensi untuk melakukan
peningkatan. Pasalnya harga minyak yang
terus turun dan kemarin ditutup pada level
US$ 118 per barel. Selain itu hal tersebut
dikuatkan secara teknikal. Indikator teknikal
MACD saham ASII saat ini masih
menunjukkan berada pada area bullish
sehingga masih berpotensi untuk naik dalam
jangka pendek. Saat ini (7/8) saham ASII
berada pada level harga Rp 21.900.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 19.100
Resistance Rp 23.050
ANTM Sudah Jenuh Jual
Saham emiten nikel dan emas BUMN , PT
Aneka Tambang (ANTM) dalam jangka
pendek secara teknikal berpeluang rebound.
Pasalnya indikator RSI (Relative Strength
Index) saham ASII saat ini berada pada level
21,83 atau sudah berada di wilayah jenuh
jual. Saham ANTM pada saat ini berada
level harga Rp 2125. Support level saham
ANTM berada pada level harga Rp 2000 dan
Resistance di level Rp 2525 , resistance level
kedua di Rp 2850.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2000
Resistance Rp 2850
Saham emiten utilitas gas , PT Gas Negara
(PGAS) pada perdagangan kemarin (6/8) berhasil
rebound. Saham PGAS berhasil naik Rp 250 atau
naik 11,24% dan ditutup pada level harga Rp
2.475. Kenaikan saham PGAS ini lantaran aksi
beli kembali saham PGAS setelah beberapa hari
sebelumnya turun pesat. Akan tetapi investor
sebaiknya wait and see terlebih dahulu menunggu
konfirmasi penjelasan dari PGAS. Pasalnya di
pasar berhembus kabar bahwa perseroan kedepan
akan memangkas target penjualan perseroan
menyusul proyek-proyek perseroan yang
diperkirakan penyelesaiannya terhambat..
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 2250
Resistance Rp 2800
LSIP Tergerus Anjloknya CPO
Saham emiten perkebunan , PT London Sumatera
Plantation (LSIP) pada perdagangan kemarin
(6/8) anjlok. Saham LSIP kemarin turun Rp 350
atau turun 4,90% dan ditutup pada level harga Rp
6800. Turunnya saham LSIP ini lantaran
turunnya harga CPO sehari sebelumnya di bursa
berjangka Malaysia yang membuat investor
melakukan aksi jual atas saham LSIP kemarin.
Semalam harga minyak melemah di level US$
118 per barel. Hal ini tentunya akan menjadi
sentimen negatif atas saham LSIP pada
perdagangan hari ini. Secara teknikal hal ini juga
ditunjukan dengan indikator MACD yang masih
menunjukkan saham LSIP masih berada di area
bearish. Support saham LSIP dilevel Rp 5450
dan resistance di Rp 8100.
Rekomendasi : Sell on Strength
Support Rp 5450
Resistance Rp 8100
ASII Masih Berpotensi Naik
Saham emiten konglomerasi, PT Astra
International Indonesia (ASII) dalam jangka
pendek berpotensi untuk melakukan
peningkatan. Pasalnya harga minyak yang
terus turun dan kemarin ditutup pada level
US$ 118 per barel. Selain itu hal tersebut
dikuatkan secara teknikal. Indikator teknikal
MACD saham ASII saat ini masih
menunjukkan berada pada area bullish
sehingga masih berpotensi untuk naik dalam
jangka pendek. Saat ini (7/8) saham ASII
berada pada level harga Rp 21.900.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 19.100
Resistance Rp 23.050
ANTM Sudah Jenuh Jual
Saham emiten nikel dan emas BUMN , PT
Aneka Tambang (ANTM) dalam jangka
pendek secara teknikal berpeluang rebound.
Pasalnya indikator RSI (Relative Strength
Index) saham ASII saat ini berada pada level
21,83 atau sudah berada di wilayah jenuh
jual. Saham ANTM pada saat ini berada
level harga Rp 2125. Support level saham
ANTM berada pada level harga Rp 2000 dan
Resistance di level Rp 2525 , resistance level
kedua di Rp 2850.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 2000
Resistance Rp 2850
MARKET REVIEW
Market
IHSG kemarin berakhir flat
IHSG hanya naik tipis 1,585 poin atau naik 0,07% dan ditutup pada
level 2187,204. Sementara itu indeks saham unggulan LQ45 turun tipis
0,312 poin atau turun 0,07% dan ditutup pada level 452,123. Tampaknya
sentimen negatif kenaikan BI rate masih menjadi penahan kenaikan
bursa kemarin.
Saham – saham perkebunan anjlok menyusul turunnya harga CPO.
Saham AALI turun 4,5% ditutup pada Rp 19.200, LSIP turun 4,9%
ditutup pada level Rp 680, GZCO turun 4,76% jadi Rp 200 dan SGRO
turun 4,67% jadi Rp 2550. Sementara itu sejumlah saham unggulan
yang naik pesat adalah saham yang sebelumnya tergerus cukup dalam.
Saham PGAS naik 11,24% jadi Rp 2475, MEDC naik 9,19% jadi Rp
5050, dan INCO naik 2,45% jadi Rp 4175.
Wall Street Menguat Imbas Outlook Cisco
Bursa Wall Street semalam menguat menyusul outlook dari Cisco dan
pelemahan minyak. Saham teknologi memimpin penguatan bursa setelah
Cisco berhasil mencatatkan laba yang solid dan melampaui ekspektasi
dan mengemukakan outlook jangka panjang yang optimis. Pelemahan
minyak sebesar 59 sen ke level $118.58 per barrel juga turut mendukung
penguatan bursa.
IHSG Akan Mencari Arah
IHSG pada perdagangan hari ini akan bergerak sideways. Hal ini karena
minimnya sentimen dan juga mixednya bursa regional pada pagi ini.
Oleh karena itu pada hari ini pasar diperkirakan akan bergerak tipis dan
akan berusaha mencari arah.
Sementara itu secara teknikal IHSG berpotensi melemah. Pasalnya
indikator MACD IHSG sedang akan menembus ke area bearish
sehingga berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Akan tetapi potensi penguatan masih mungkin terjadi untuk saham –
saham yang bergerak sensitif akan inflasi seperti perbankan ,
telekomunikasi, semen dan properti. Hal ini karena turunnya harga
minyak di level US$ 118 per barel semalam. Selain itu turunnya harga
minyak akan melemahkan saham –saham komoditas pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham
ASII, INDF, SMGR, INTP, ELTY, ADHI, WIKA, JSMR, BBRI,
IHSG kemarin berakhir flat
IHSG hanya naik tipis 1,585 poin atau naik 0,07% dan ditutup pada
level 2187,204. Sementara itu indeks saham unggulan LQ45 turun tipis
0,312 poin atau turun 0,07% dan ditutup pada level 452,123. Tampaknya
sentimen negatif kenaikan BI rate masih menjadi penahan kenaikan
bursa kemarin.
Saham – saham perkebunan anjlok menyusul turunnya harga CPO.
Saham AALI turun 4,5% ditutup pada Rp 19.200, LSIP turun 4,9%
ditutup pada level Rp 680, GZCO turun 4,76% jadi Rp 200 dan SGRO
turun 4,67% jadi Rp 2550. Sementara itu sejumlah saham unggulan
yang naik pesat adalah saham yang sebelumnya tergerus cukup dalam.
Saham PGAS naik 11,24% jadi Rp 2475, MEDC naik 9,19% jadi Rp
5050, dan INCO naik 2,45% jadi Rp 4175.
Wall Street Menguat Imbas Outlook Cisco
Bursa Wall Street semalam menguat menyusul outlook dari Cisco dan
pelemahan minyak. Saham teknologi memimpin penguatan bursa setelah
Cisco berhasil mencatatkan laba yang solid dan melampaui ekspektasi
dan mengemukakan outlook jangka panjang yang optimis. Pelemahan
minyak sebesar 59 sen ke level $118.58 per barrel juga turut mendukung
penguatan bursa.
IHSG Akan Mencari Arah
IHSG pada perdagangan hari ini akan bergerak sideways. Hal ini karena
minimnya sentimen dan juga mixednya bursa regional pada pagi ini.
Oleh karena itu pada hari ini pasar diperkirakan akan bergerak tipis dan
akan berusaha mencari arah.
Sementara itu secara teknikal IHSG berpotensi melemah. Pasalnya
indikator MACD IHSG sedang akan menembus ke area bearish
sehingga berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Akan tetapi potensi penguatan masih mungkin terjadi untuk saham –
saham yang bergerak sensitif akan inflasi seperti perbankan ,
telekomunikasi, semen dan properti. Hal ini karena turunnya harga
minyak di level US$ 118 per barel semalam. Selain itu turunnya harga
minyak akan melemahkan saham –saham komoditas pada hari ini.
Saham – saham yang menarik dikoleksi pada hari ini adalah saham
ASII, INDF, SMGR, INTP, ELTY, ADHI, WIKA, JSMR, BBRI,
Tuesday, August 5, 2008
Market Movements
Bursa Indonesia pada perdagangan kemarin kembali meneruskan penurunannya dengan melorot tajam 1,8% ke level 2185,6. Penurunan ini dipicu oleh sell-off yang terjadi pada sektor komoditi dan telekomunikasi, serta sentimen negatif dari kenaikan BI Rate ke level 9% yang juga melemahkan sektor banking. Pelemahan ketiga sektor yang memiliki porsi terbesar pada IHSG ini membuat indeks semakin melorot. Mulai turunnya harga komoditas dunia termasuk minyak, batubara, nikel dan CPO memperparah penurunan di sektor komoditi.
Sementara bursa US pada perdagangan semalam berhasil rebound setelah penurunan selama 3 hari terakhir, setelah The Fed mempertahankan suku bunganya di level 2% serta harga minyak dunia yang kembali terkoreksi ke level US$118. Membaiknya perekonomian US pada kuartal kedua juga memberi sentimen positif bagi bursa US. Indeks Dow Jones ditutup menguat 2,94% atau naik lebih dari 330 poin. Terkait hal ini, bursa-bursa Asia seluruhnya turut dibuka rebound sekitar 2%.
Sentimen positif dari bursa US dan Asia diperkirakan akan mengakhiri 'mimpi buruk' di bursa Indonesia selama 3 hari terakhir ini. Indeks diperkirakan akan mampu rebound dengan ditopang oleh saham-saham komoditas yang telah terkoreksi cukup dalam, seperti BUMI, PTBA, AALI, PGAS dan ITMG. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2170 - 2240.
Daily Content
News Highlights :
· Commodity: Larangan travel untuk 13 bos batu-bara (jakarta)
· Economic: BI rate 9% (Kompas)
· Banking: prospek kredit besar, tarik dana SBI Rp 100 T (Investor)
· Economic: tarif PPN tak akan naik (investor)
· TRIL: jajaki akuisisi batubara Rp100 M (investor)
· PGAS: Diizinkan Tentukan Harga Jual
Technical Picks :
· AALI (Rp 20.200) – BUY
· AKRA (Rp 1.090) – Buy on Weakness
· ITMG (Rp 25.850) – Buy on Weakness
· PTBA (Rp 12.200) – BUY
Sementara bursa US pada perdagangan semalam berhasil rebound setelah penurunan selama 3 hari terakhir, setelah The Fed mempertahankan suku bunganya di level 2% serta harga minyak dunia yang kembali terkoreksi ke level US$118. Membaiknya perekonomian US pada kuartal kedua juga memberi sentimen positif bagi bursa US. Indeks Dow Jones ditutup menguat 2,94% atau naik lebih dari 330 poin. Terkait hal ini, bursa-bursa Asia seluruhnya turut dibuka rebound sekitar 2%.
Sentimen positif dari bursa US dan Asia diperkirakan akan mengakhiri 'mimpi buruk' di bursa Indonesia selama 3 hari terakhir ini. Indeks diperkirakan akan mampu rebound dengan ditopang oleh saham-saham komoditas yang telah terkoreksi cukup dalam, seperti BUMI, PTBA, AALI, PGAS dan ITMG. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2170 - 2240.
Daily Content
News Highlights :
· Commodity: Larangan travel untuk 13 bos batu-bara (jakarta)
· Economic: BI rate 9% (Kompas)
· Banking: prospek kredit besar, tarik dana SBI Rp 100 T (Investor)
· Economic: tarif PPN tak akan naik (investor)
· TRIL: jajaki akuisisi batubara Rp100 M (investor)
· PGAS: Diizinkan Tentukan Harga Jual
Technical Picks :
· AALI (Rp 20.200) – BUY
· AKRA (Rp 1.090) – Buy on Weakness
· ITMG (Rp 25.850) – Buy on Weakness
· PTBA (Rp 12.200) – BUY
Market
IHSG Melemah , Saham Tambang Rontok
IHSG kemarin berakhir bearish. IHSG ditutup turun 1,89% atau turun
42,056 poin dan ditutup pada level 2185,619. Indeks LQ45 juga anjlok
turun 2,23% atau turun 10,329 poin dan ditutup pada level 452,435.
Jebloknya IHSG akibat kombinasi naiknya BI rate dan melemahnya
bursa regional.
Saham – saham pertambangan turun pesat memimpin penurunan bursa.
Hal ini akibat sentimen negatif turunnya harga minyak. Saham BUMI
turun Rp 550 jadi Rp 5300, PTBA turun Rp 850 jadi Rp 12.200, ANTM
turun Rp 150 jadi Rp 2175, TINS turun Rp 1700 jadi Rp 29.900 dan
INCO turun Rp 225 jadi Rp 4075.
Wall Street Bullish Imabs Minyak dan The Fed
Bursa Wall Street semalam mengalami rally dan ditutup menguat
menyusul harga minyak yang terus melemah serta pernyataan dari The
Fed yang mengindikasikan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk
menaikkan suku bunganya.
Seperti yang telah diprediksikan, The Fed mempertahankan FFR di level
2% serta mengindikasikan bahwa mereka tidak akan segera menaikkan
suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, seperti yang
dikhawatirkan oleh pasar. Sementara itu, minyak yang anjlok 2.83% ke
level $118.58 juga menjadi sentimen positif yang mendukung pasar.
Indeks utama AS seluruhnya terpantau menguat: Dow Jones menguat
331.21 poin atau 2.94% ke level 11,615.36; S&P 500 Index menanjak
35.59 poin atau 2.85% ke level 1,284.60; dan Nasdaq melonjak 64.27
poin atau 2.81% ke level 2,349.83.
IHSG Berpotensi Naik Ikuti Regional
IHSG pada perdagangan hari ini (6/8) diperkirakan akan menguat
menyusul menguatnya bursa AS semalam dan bursa regional pada pagi
ini. Selain itu turunnya harga minyak di level US$ 119 per barel akan
menjadi sentimen positif pergerakan saham –saham unggulan di bursa
hari ini.
Saham – saham unggulan di sektor yang sensitif akan inflasi seperti
saham perbankan, telekomunikasi, semen, konstruksi dan properti
berpeluang naik pada perdagangan hari ini menyusul harga minyak yang
melemah. Sementara itu saham berbasis komoditas diperkirakan akan
melemah menyusul jebloknya harga komoditas semalam.
Saham –saham yang menarik dikoleksi pada perdagangan hari ini adalah
saham BBRI, BMRI, BBCA, BDMN, ASII, INDF, SMGR, INTP,
SMCB, ISAT, TLKM, ISAT, ELTY, WIKA dan JSMR.
IHSG kemarin berakhir bearish. IHSG ditutup turun 1,89% atau turun
42,056 poin dan ditutup pada level 2185,619. Indeks LQ45 juga anjlok
turun 2,23% atau turun 10,329 poin dan ditutup pada level 452,435.
Jebloknya IHSG akibat kombinasi naiknya BI rate dan melemahnya
bursa regional.
Saham – saham pertambangan turun pesat memimpin penurunan bursa.
Hal ini akibat sentimen negatif turunnya harga minyak. Saham BUMI
turun Rp 550 jadi Rp 5300, PTBA turun Rp 850 jadi Rp 12.200, ANTM
turun Rp 150 jadi Rp 2175, TINS turun Rp 1700 jadi Rp 29.900 dan
INCO turun Rp 225 jadi Rp 4075.
Wall Street Bullish Imabs Minyak dan The Fed
Bursa Wall Street semalam mengalami rally dan ditutup menguat
menyusul harga minyak yang terus melemah serta pernyataan dari The
Fed yang mengindikasikan bahwa mereka tidak akan terburu-buru untuk
menaikkan suku bunganya.
Seperti yang telah diprediksikan, The Fed mempertahankan FFR di level
2% serta mengindikasikan bahwa mereka tidak akan segera menaikkan
suku bunga dalam beberapa bulan mendatang, seperti yang
dikhawatirkan oleh pasar. Sementara itu, minyak yang anjlok 2.83% ke
level $118.58 juga menjadi sentimen positif yang mendukung pasar.
Indeks utama AS seluruhnya terpantau menguat: Dow Jones menguat
331.21 poin atau 2.94% ke level 11,615.36; S&P 500 Index menanjak
35.59 poin atau 2.85% ke level 1,284.60; dan Nasdaq melonjak 64.27
poin atau 2.81% ke level 2,349.83.
IHSG Berpotensi Naik Ikuti Regional
IHSG pada perdagangan hari ini (6/8) diperkirakan akan menguat
menyusul menguatnya bursa AS semalam dan bursa regional pada pagi
ini. Selain itu turunnya harga minyak di level US$ 119 per barel akan
menjadi sentimen positif pergerakan saham –saham unggulan di bursa
hari ini.
Saham – saham unggulan di sektor yang sensitif akan inflasi seperti
saham perbankan, telekomunikasi, semen, konstruksi dan properti
berpeluang naik pada perdagangan hari ini menyusul harga minyak yang
melemah. Sementara itu saham berbasis komoditas diperkirakan akan
melemah menyusul jebloknya harga komoditas semalam.
Saham –saham yang menarik dikoleksi pada perdagangan hari ini adalah
saham BBRI, BMRI, BBCA, BDMN, ASII, INDF, SMGR, INTP,
SMCB, ISAT, TLKM, ISAT, ELTY, WIKA dan JSMR.
HIGHLIGHTS
BBRI Menanjak Naik 4,71%, Imbas
Turunnya Minyak dan Kinerja Semester 1
Saham emiten perbankan, PT bank BRI
(BBRI) ada perdagangan kemarin berhasil
(5/8) naik. Saham BBRI naik 2,54% atau
naik Rp 150 dan ditutup pada level harga Rp
6050. Saham BBRI naik dipicu oleh turunnya
harga minyak dan efek dari perbaikan kinerja
di semester 1 lalu. Pada perdagangan hari ini
saham BBRI diperkirakan masih akan
melanjutkan kenaikan. Pasalnya semalam
harga minyak kembali melemah di level
dibawah US$ 120 per barel tepatnya di US$
119 per barel. Lalu juga ditambah lagi
dengan sentiment positif naiknya bursa AS
semalam akan menjadi tambahan bahan
bakar kenaikan saham BBRI dalam jangka
pendek. Support saham BBRI Rp 5300 dan
Resistance di level Rp 6400.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 5300
Resistance Rp 6400
Saham BNBR Jeblok, Bergerak Dengan
Tren Negatif
Saham Grup Bakrie, PT Bakrie and Brother
(BNBR) pada perdagangan kemarin (5/8)
turun pesat. Saham BNBR turun Rp 30 atau
turun 8,22% dan ditutup pada level harga Rp
335. Turunnya saham BNBR ini semakin
menegaskan pergerakan saham BNBR
dengan tren negative sejak 2 Juli lalu. Secara
teknikal dalam jangka pendek saham BNBR
berpeluang untuk melakukan rebound
teknikal dalam jangka pendek. Pasalnya
indikator RSI (Relative Strength Index)
saham BNBR saat ini berada pada area jenuh
jual. Saat ini nilai RSI saham BNBR berada
pada level 13,51 atau sudah jauh dibawah
level 30,00.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 300
Resistance Rp 405
SMGR Cukup Menarik Hari Ini
Saham emiten semen BUMN, PT Semen
Gresik (SMGR) pada perdagangan hari ini
(6/8) cukup menarik dikoleksi. Hal ini karena
turunnya harga minyak dibawah level US$
120 per barel semalam akan menjadi
sentiment positif bagi saham SMGR yang
bergerak sensitive akan pergerakan harga
minyak dan inflasi. Secara teknikal saham
SMGR layak dikoleksi dalam jangka pendek.
Pasalnya saat ini indikator Moving Average
jangka pendek sedang akan menembus ke
atas indikator Moving Average jangka
panjangnya. Saat ini saham SMGR berada
pada level harga Rp 3975. Support saham
SMGR pada level Rp 3900 dan Resistance
level di Rp 4150.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 3900
Resistance Rp 4150
Harga Batubara Anjlok, Saham PTBA
Berpotensi Turun
Turunnya harga minyak semalam membuat
harga batubara terpantau melemah. Harga
batubara anjlok 4,42% dan ditutup pada level
US$ 115 per MT. Hal ini berarti harga
batubara telah anjlok pesat sebesar US$ 15
hanya dalam kurun waktu kurang dari satu
minggu. Hal ini tentunya akan menjadi
sentiment negative bagi saham emiten
batubara , PT Tambang Batubara Bukit Asam
(PTBA) dalam jangka pendek. Secara
teknikal hal itu juga dikuatkan dengan
indikator moving average jangka pendek
saham PTBA masih berada di bawah
indikator moving average jangka panjangnya
yang menandakan saham PTBA masih
berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 10.850
Resistance Rp 13.950
Turunnya Minyak dan Kinerja Semester 1
Saham emiten perbankan, PT bank BRI
(BBRI) ada perdagangan kemarin berhasil
(5/8) naik. Saham BBRI naik 2,54% atau
naik Rp 150 dan ditutup pada level harga Rp
6050. Saham BBRI naik dipicu oleh turunnya
harga minyak dan efek dari perbaikan kinerja
di semester 1 lalu. Pada perdagangan hari ini
saham BBRI diperkirakan masih akan
melanjutkan kenaikan. Pasalnya semalam
harga minyak kembali melemah di level
dibawah US$ 120 per barel tepatnya di US$
119 per barel. Lalu juga ditambah lagi
dengan sentiment positif naiknya bursa AS
semalam akan menjadi tambahan bahan
bakar kenaikan saham BBRI dalam jangka
pendek. Support saham BBRI Rp 5300 dan
Resistance di level Rp 6400.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 5300
Resistance Rp 6400
Saham BNBR Jeblok, Bergerak Dengan
Tren Negatif
Saham Grup Bakrie, PT Bakrie and Brother
(BNBR) pada perdagangan kemarin (5/8)
turun pesat. Saham BNBR turun Rp 30 atau
turun 8,22% dan ditutup pada level harga Rp
335. Turunnya saham BNBR ini semakin
menegaskan pergerakan saham BNBR
dengan tren negative sejak 2 Juli lalu. Secara
teknikal dalam jangka pendek saham BNBR
berpeluang untuk melakukan rebound
teknikal dalam jangka pendek. Pasalnya
indikator RSI (Relative Strength Index)
saham BNBR saat ini berada pada area jenuh
jual. Saat ini nilai RSI saham BNBR berada
pada level 13,51 atau sudah jauh dibawah
level 30,00.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 300
Resistance Rp 405
SMGR Cukup Menarik Hari Ini
Saham emiten semen BUMN, PT Semen
Gresik (SMGR) pada perdagangan hari ini
(6/8) cukup menarik dikoleksi. Hal ini karena
turunnya harga minyak dibawah level US$
120 per barel semalam akan menjadi
sentiment positif bagi saham SMGR yang
bergerak sensitive akan pergerakan harga
minyak dan inflasi. Secara teknikal saham
SMGR layak dikoleksi dalam jangka pendek.
Pasalnya saat ini indikator Moving Average
jangka pendek sedang akan menembus ke
atas indikator Moving Average jangka
panjangnya. Saat ini saham SMGR berada
pada level harga Rp 3975. Support saham
SMGR pada level Rp 3900 dan Resistance
level di Rp 4150.
Rekomendasi : Buy
Support Rp 3900
Resistance Rp 4150
Harga Batubara Anjlok, Saham PTBA
Berpotensi Turun
Turunnya harga minyak semalam membuat
harga batubara terpantau melemah. Harga
batubara anjlok 4,42% dan ditutup pada level
US$ 115 per MT. Hal ini berarti harga
batubara telah anjlok pesat sebesar US$ 15
hanya dalam kurun waktu kurang dari satu
minggu. Hal ini tentunya akan menjadi
sentiment negative bagi saham emiten
batubara , PT Tambang Batubara Bukit Asam
(PTBA) dalam jangka pendek. Secara
teknikal hal itu juga dikuatkan dengan
indikator moving average jangka pendek
saham PTBA masih berada di bawah
indikator moving average jangka panjangnya
yang menandakan saham PTBA masih
berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 10.850
Resistance Rp 13.950
HIGHLIGHTS
TLKM Bergerak Melawan Arah
Emiten telekomunikasi, PT Telekomunikasi
Indonesia (TLKM) pada perdagangan
kemarin (4/8) bergerak melawan arus. Saham
TLKM kemarin naik Rp 300 atau naik 3,92%
dan ditutup pada level harga Rp 7950.
Padahal secara umum bursa kemarin
bergerak bearish. Naiknya saham TLKM ini
semakin menegaskan kenaikan saham TLKM
pada beberapa hari sebelumnya seiring
melemahnya harga minyak. Secara teknikal
saham TLKM masih berpotensi untuk naik.
Pasalnya saat ini saham TLKM masih berada
pada area beli sehingga masih berpeluang
untuk naik dalam jangka pendek. Support
saham TLKM di level Rp 7250 dan
resistance di level Rp 8800.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 7250
Resistance Rp 8800
Saham MIRA Berpotensi Tergerus Imbas
Profit Taking
Saham Mitra Rajasa (MIRA) pada
perdagangan hari ini (5/8) berpotensi untuk
melemah. Hal ini didorong oleh turunnya
harga minyak semalam di level US$ 121 per
barel dan kombinasi aksi profit taking
diperkirakan akan menjadi bahan bakar
penurunan saham MIRA hari ini. Selain itu
saat ini secara teknikal saham MIRA relative
sudah berada dalam area jenuh jual sehingga
berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Saat ini saham MIRA mempunyai nilai RSI
(Relative Strength Index) sebesar 68,29 yang
artinya sudah dekat dengan wilayah jenuh
jual. Saat ini saham MIRA diperdagangkan
pada level harga Rp 900. Support saham
MIRA pada level Rp 790 dan Resistance
level pada Rp 965.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 790
Resistance Rp 965
Harga Minyak Turun , Saham ASII
Menarik
Harga minyak semalam turun pesat 3 dollar
dan berada pada level US$ 121 per barel. Hal
ini akibat ekspektasi penurunan permintaan
akan minyak menyusul perlambatan ekonomi
di AS. Turunnya harga minyak ini tentunya
akan menjadi sentimen positif bagi saham
Astra Internasional (ASII). Secara teknikal
hal ini dikuatkan dengan indikator MACD
yang menunjukkan saham ASII masih berada
pada area beli sehingga berpotensi naik
dalam jangka pendek. Saat ini saham ASII
berada pada level harga Rp 21.600. Support
saham ASII pada level harga Rp 19.100 dan
Resistance pada level Rp 23.050.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 19.100
Resistance Rp 23.050
SGRO Melempem Imbas Turunnya
Harga Komoditas
Saham emiten perkebunan, PT Sampoerna
Agro (SGRO) pada perdagangan kemarin
(4/8) bergerak turun pesat. Saham SGRO
kemarin turun pesat Rp 200 atau turun 6,67%
dan ditutup pada level harga Rp 2800. Saham
SGRO turun lantaran melemahnya harga
komoditas yang tentunya menjadi sentimen
negatif bagi saham SGRO. Saham SGRO
sendiri pada perdagangan hari ini
diperkirakan akan kembali melemah.
Pasalnya semalam harga komoditas anjlok
pesat sebesar US$ 121 per barel. Hal ini
tentunya akan menekan pergerakan saham
SGRO pada perdagangan hari ini. Support
saham SGRO di Rp 2675 dan Resistance
level di Rp 3300.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 2675
Resistance Rp 3300
Emiten telekomunikasi, PT Telekomunikasi
Indonesia (TLKM) pada perdagangan
kemarin (4/8) bergerak melawan arus. Saham
TLKM kemarin naik Rp 300 atau naik 3,92%
dan ditutup pada level harga Rp 7950.
Padahal secara umum bursa kemarin
bergerak bearish. Naiknya saham TLKM ini
semakin menegaskan kenaikan saham TLKM
pada beberapa hari sebelumnya seiring
melemahnya harga minyak. Secara teknikal
saham TLKM masih berpotensi untuk naik.
Pasalnya saat ini saham TLKM masih berada
pada area beli sehingga masih berpeluang
untuk naik dalam jangka pendek. Support
saham TLKM di level Rp 7250 dan
resistance di level Rp 8800.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 7250
Resistance Rp 8800
Saham MIRA Berpotensi Tergerus Imbas
Profit Taking
Saham Mitra Rajasa (MIRA) pada
perdagangan hari ini (5/8) berpotensi untuk
melemah. Hal ini didorong oleh turunnya
harga minyak semalam di level US$ 121 per
barel dan kombinasi aksi profit taking
diperkirakan akan menjadi bahan bakar
penurunan saham MIRA hari ini. Selain itu
saat ini secara teknikal saham MIRA relative
sudah berada dalam area jenuh jual sehingga
berpotensi melemah dalam jangka pendek.
Saat ini saham MIRA mempunyai nilai RSI
(Relative Strength Index) sebesar 68,29 yang
artinya sudah dekat dengan wilayah jenuh
jual. Saat ini saham MIRA diperdagangkan
pada level harga Rp 900. Support saham
MIRA pada level Rp 790 dan Resistance
level pada Rp 965.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 790
Resistance Rp 965
Harga Minyak Turun , Saham ASII
Menarik
Harga minyak semalam turun pesat 3 dollar
dan berada pada level US$ 121 per barel. Hal
ini akibat ekspektasi penurunan permintaan
akan minyak menyusul perlambatan ekonomi
di AS. Turunnya harga minyak ini tentunya
akan menjadi sentimen positif bagi saham
Astra Internasional (ASII). Secara teknikal
hal ini dikuatkan dengan indikator MACD
yang menunjukkan saham ASII masih berada
pada area beli sehingga berpotensi naik
dalam jangka pendek. Saat ini saham ASII
berada pada level harga Rp 21.600. Support
saham ASII pada level harga Rp 19.100 dan
Resistance pada level Rp 23.050.
Rekomendasi : Buy on Weakness
Support Rp 19.100
Resistance Rp 23.050
SGRO Melempem Imbas Turunnya
Harga Komoditas
Saham emiten perkebunan, PT Sampoerna
Agro (SGRO) pada perdagangan kemarin
(4/8) bergerak turun pesat. Saham SGRO
kemarin turun pesat Rp 200 atau turun 6,67%
dan ditutup pada level harga Rp 2800. Saham
SGRO turun lantaran melemahnya harga
komoditas yang tentunya menjadi sentimen
negatif bagi saham SGRO. Saham SGRO
sendiri pada perdagangan hari ini
diperkirakan akan kembali melemah.
Pasalnya semalam harga komoditas anjlok
pesat sebesar US$ 121 per barel. Hal ini
tentunya akan menekan pergerakan saham
SGRO pada perdagangan hari ini. Support
saham SGRO di Rp 2675 dan Resistance
level di Rp 3300.
Rekomendasi : Sell
Support Rp 2675
Resistance Rp 3300
Monday, August 4, 2008
rumor
Market Movements
Pedagangan US tadi malam terkoreksi -0,37% menjadi 11.284, dikarenakan kekawatiran investor dengan angka inflasi. Namun teredam oleh melemahnya Minyak dunia yang telah menyentuh $120/barrel atau turun 18% dari titik tertingginya $147/barrel. Data daya beli masyarakat US melemah -0,2% dan diperkirakan The Fed akan menahan pemangkasan Fed rate.
Di indonesia, market di tutup -0,9% kemarin, pengerak terbesar berasal dari counter komoditas ie. BUMI -4,9% dan PGAS -9% namun teredam oleh penguatan TLKM +4%. Investor kembali kawatir dengan penurunan komoditas across-the-board dan mengalokasikan portofolio ke saham defensive, yaitu TLKM
Untuk perdagangan hari ini, Indeks diperkirakan akan side-way. Penurunan harga minyak dunia akan menjadi sentiment negative ke counter komoditas, namun counter energy-insentive akan memberi penahan. Pengumuman BI rate hari ini akan menjadi penentu pergerak market. Diperkirakan BI akan menaikan suku bunga 25-50bps dari rate saat ini 8,75%. Range indeks diperkiran bekisar antara 2,210 – 2,240
Daily Content
Company Focus:
· 1H08 Results: Disappointing Volume…
News Highlights :
· CPRO: Penjualan 1H08 naik 42,18%
· Economic: BI rate +25bps-50bps
· Economic: Rata-rata ICP US$134,96 (media)
· BDMN: Jajaki Obligasi US$300 Juta (Bisnis)
· BMRI: Kandidat Terkuat Pembeli Indover (Bisnis)
· BNII: Maybank berpotensi Rugi US$1 miliar (Bisnis)
Technical Picks :
· IHSG (2.248,7) – Buy on Weakness
· PNLF (Rp 205) – Buy on Weakness
· WIKA (Rp 375) - SELL
· SMRA (Rp 370) - SELL
Pedagangan US tadi malam terkoreksi -0,37% menjadi 11.284, dikarenakan kekawatiran investor dengan angka inflasi. Namun teredam oleh melemahnya Minyak dunia yang telah menyentuh $120/barrel atau turun 18% dari titik tertingginya $147/barrel. Data daya beli masyarakat US melemah -0,2% dan diperkirakan The Fed akan menahan pemangkasan Fed rate.
Di indonesia, market di tutup -0,9% kemarin, pengerak terbesar berasal dari counter komoditas ie. BUMI -4,9% dan PGAS -9% namun teredam oleh penguatan TLKM +4%. Investor kembali kawatir dengan penurunan komoditas across-the-board dan mengalokasikan portofolio ke saham defensive, yaitu TLKM
Untuk perdagangan hari ini, Indeks diperkirakan akan side-way. Penurunan harga minyak dunia akan menjadi sentiment negative ke counter komoditas, namun counter energy-insentive akan memberi penahan. Pengumuman BI rate hari ini akan menjadi penentu pergerak market. Diperkirakan BI akan menaikan suku bunga 25-50bps dari rate saat ini 8,75%. Range indeks diperkiran bekisar antara 2,210 – 2,240
Daily Content
Company Focus:
· 1H08 Results: Disappointing Volume…
News Highlights :
· CPRO: Penjualan 1H08 naik 42,18%
· Economic: BI rate +25bps-50bps
· Economic: Rata-rata ICP US$134,96 (media)
· BDMN: Jajaki Obligasi US$300 Juta (Bisnis)
· BMRI: Kandidat Terkuat Pembeli Indover (Bisnis)
· BNII: Maybank berpotensi Rugi US$1 miliar (Bisnis)
Technical Picks :
· IHSG (2.248,7) – Buy on Weakness
· PNLF (Rp 205) – Buy on Weakness
· WIKA (Rp 375) - SELL
· SMRA (Rp 370) - SELL
rumor
Timah
Benefiting from recent developments in the tin industry
Demand-supply imbalances to keep the tin price high
Tin prices have held up well despite the slowdown in the global economy. The price of tin as quoted on the LME is now hovering at around $21,000/ton despite concerns of softening demand after a period of prolonged price increases.
A supply shortage is one of the main factors behind the strong uptrend in prices. According to the CRU, the total supply of tin will reach 343,500 tons in 2008, or significantly below the estimated demand of 361,500 tons. The supply shortage is mainly attributable to falling production in China and Indonesia .
On the demand side, according to CRU, global consumption will increase 1.7% this year, driven by the growth in China (7%) and other Asian countries (3%). Consumption in Japan is predicted to be stable, while consumption in Europe and USA is, in contrast, estimated to decline 3.5% and 8.5% respectively.
Indonesia’s bigger role in the international market
Currently, Indonesia is the world’s largest exporter of refined tin. Moreover, its role in the global market is becoming more important as China ’s exports continue to decline. Thus, if such trends continue, then Indonesian tin miners and producers - especially TINS - will have some power to influence the global supply, and thus the price of tin on the international market.
Potential upgrade on reserves
TINS is still in the process of reviewing its reserves. Based on the last calculation, its total reserves stood at 357 million tons using $5,000/ton as a price reference. Nonetheless, the findings of the review have not been released by the company. However, we do expect a significant upgrade on the reserves given that the current high tin price.
Making the right moves
Increasing the offshore production
TINS has been planning to boost the proportion of its tin ore production coming from offshore mining from 20% in 2007 to 50% by 2009. We consider this as an encouraging development, not only because the onshore reserves are depleting, but also because the current inland production cost ($13,000/ton - $14,000/ton) is far higher than the offshore production cost ($8,000/ton - $9,000/ton).
Expanding the business
After years of slow expansion, TINS plans to start expanding its business more aggressively. This year’s capital expenditure is estimated to be around Rp1.4 trillion ($151 million), or much higher than in previous years. Most of the money will be used to increase production capacity and to expand its downstream industries.
We view this offshore capacity expansion as a good way to increase the offshore production and to lower production costs. Furthermore, the company’s business expansion into downstream industries is well justified, we believe, given that tin solder is the major usage for tin (around 52% of tin is used for this application), while 13% of tin is used in tin chemical applications.
Benefiting from recent developments in the tin industry
Demand-supply imbalances to keep the tin price high
Tin prices have held up well despite the slowdown in the global economy. The price of tin as quoted on the LME is now hovering at around $21,000/ton despite concerns of softening demand after a period of prolonged price increases.
A supply shortage is one of the main factors behind the strong uptrend in prices. According to the CRU, the total supply of tin will reach 343,500 tons in 2008, or significantly below the estimated demand of 361,500 tons. The supply shortage is mainly attributable to falling production in China and Indonesia .
On the demand side, according to CRU, global consumption will increase 1.7% this year, driven by the growth in China (7%) and other Asian countries (3%). Consumption in Japan is predicted to be stable, while consumption in Europe and USA is, in contrast, estimated to decline 3.5% and 8.5% respectively.
Indonesia’s bigger role in the international market
Currently, Indonesia is the world’s largest exporter of refined tin. Moreover, its role in the global market is becoming more important as China ’s exports continue to decline. Thus, if such trends continue, then Indonesian tin miners and producers - especially TINS - will have some power to influence the global supply, and thus the price of tin on the international market.
Potential upgrade on reserves
TINS is still in the process of reviewing its reserves. Based on the last calculation, its total reserves stood at 357 million tons using $5,000/ton as a price reference. Nonetheless, the findings of the review have not been released by the company. However, we do expect a significant upgrade on the reserves given that the current high tin price.
Making the right moves
Increasing the offshore production
TINS has been planning to boost the proportion of its tin ore production coming from offshore mining from 20% in 2007 to 50% by 2009. We consider this as an encouraging development, not only because the onshore reserves are depleting, but also because the current inland production cost ($13,000/ton - $14,000/ton) is far higher than the offshore production cost ($8,000/ton - $9,000/ton).
Expanding the business
After years of slow expansion, TINS plans to start expanding its business more aggressively. This year’s capital expenditure is estimated to be around Rp1.4 trillion ($151 million), or much higher than in previous years. Most of the money will be used to increase production capacity and to expand its downstream industries.
We view this offshore capacity expansion as a good way to increase the offshore production and to lower production costs. Furthermore, the company’s business expansion into downstream industries is well justified, we believe, given that tin solder is the major usage for tin (around 52% of tin is used for this application), while 13% of tin is used in tin chemical applications.
Friday, August 1, 2008
rumor
Market Movements
Bursa Indonesia kemarin berhasil 'mengejar' ketertinggalannya atas bursa US dan Asia selama libur dua hari lalu. Indeks ditutup kembali menguat signifikan 1,13% di level 2304,5. Penguatan kemarin ditopang oleh kembali rallynya saham-saham komoditas dan banking, dengan dominasi 62% oleh transaksi asing. Naiknya porsi transaksi asing memberi angin segar baru pada bursa Indonesia bahwa likuiditas bursa sudah mulai pulih.
Sementara Bursa US semalam mengakhiri rallynya selama 2 hari berturut-turut, akibat lemahnya data pertumbuhan GDP 2Q yang hanya 1,9%, jauh dari ekspektasi pasar sekitar 2,5%. Sentimen negatif lainnya juga datang dari meningkatnya angka pengangguran US yang mencetak angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Indeks Dow Jones turun 1,78% ke level 11.387 dengan diikuti oleh turunnya bursa Asia sekitar 1-1,5% pada pembukaan perdagangan hari ini.
Bursa Indonesia pada perdagangan hari ini diperkirakan akan terpengaruh oleh sentimen negatif bursa US, dan sentimen ini akan dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan profit taking pada saham-saham yang telah menguat signifikan selama 1 minggu terakhir. Namun, better-than-expected 1H08 results atas beberapa emiten akan menahan laju penurunan indeks. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2275 - 2305.
Daily Content
News Highlights :
· BUMI: Net Profit Rose 74,3%, lower-than-expected
· INKP: Laba 1H08 meroket 5219% (investor)
· TLKM: Laba 1H08 turun 4,5% (bisnis)
· Economic: inflasi Juli diperkirakan 11.14-11.17% (Investor)
· SMGR: Incar Dana Eksternal US$1,1 Miliar (Bisnis)
· APEX: Pendapatan 1H08 melonjak 41,7% (investor)
· MPPA: Laba 1H08 naik 20% (investor)
· MEDC: Laba 1H08 double
Technical Picks :
· HEXA (Rp 2.975) - SELL
· INTP (Rp 6.150) – Sell on Strength
· WIKA (Rp 375) - SELL
· SMRA (Rp 370) - SELL
Bursa Indonesia kemarin berhasil 'mengejar' ketertinggalannya atas bursa US dan Asia selama libur dua hari lalu. Indeks ditutup kembali menguat signifikan 1,13% di level 2304,5. Penguatan kemarin ditopang oleh kembali rallynya saham-saham komoditas dan banking, dengan dominasi 62% oleh transaksi asing. Naiknya porsi transaksi asing memberi angin segar baru pada bursa Indonesia bahwa likuiditas bursa sudah mulai pulih.
Sementara Bursa US semalam mengakhiri rallynya selama 2 hari berturut-turut, akibat lemahnya data pertumbuhan GDP 2Q yang hanya 1,9%, jauh dari ekspektasi pasar sekitar 2,5%. Sentimen negatif lainnya juga datang dari meningkatnya angka pengangguran US yang mencetak angka tertinggi dalam 5 tahun terakhir. Indeks Dow Jones turun 1,78% ke level 11.387 dengan diikuti oleh turunnya bursa Asia sekitar 1-1,5% pada pembukaan perdagangan hari ini.
Bursa Indonesia pada perdagangan hari ini diperkirakan akan terpengaruh oleh sentimen negatif bursa US, dan sentimen ini akan dimanfaatkan pelaku pasar untuk melakukan profit taking pada saham-saham yang telah menguat signifikan selama 1 minggu terakhir. Namun, better-than-expected 1H08 results atas beberapa emiten akan menahan laju penurunan indeks. Rentang pergerakan indeks akan berada pada kisaran 2275 - 2305.
Daily Content
News Highlights :
· BUMI: Net Profit Rose 74,3%, lower-than-expected
· INKP: Laba 1H08 meroket 5219% (investor)
· TLKM: Laba 1H08 turun 4,5% (bisnis)
· Economic: inflasi Juli diperkirakan 11.14-11.17% (Investor)
· SMGR: Incar Dana Eksternal US$1,1 Miliar (Bisnis)
· APEX: Pendapatan 1H08 melonjak 41,7% (investor)
· MPPA: Laba 1H08 naik 20% (investor)
· MEDC: Laba 1H08 double
Technical Picks :
· HEXA (Rp 2.975) - SELL
· INTP (Rp 6.150) – Sell on Strength
· WIKA (Rp 375) - SELL
· SMRA (Rp 370) - SELL
indexs
Tokyo Nikkei 225 13,109.340 -267.4697 -1.9995%
Dow Jones Industrial Average 11,378.020 -205.6709 -1.7755%
Australia All Ordinaries Index 4,977.800 -74.8003 -1.4804%
NYSE Composite Index 8,438.640 -126.6699 -1.4789%
Hang Seng Index 22,417.050 -314.0488 -1.3816%
Taipei Weighted Index 6,932.520 -91.5400 -1.3032%
Singapore Straits Time 2,891.550 -38.0999 -1.3005%
Seoul Composite Index 1,576.950 -17.7201 -1.1112%
NZSE50 Composite Index 3,322.698 -13.5791 -0.4070%
Manila Composite Index 2,568.450 -8.6501 -0.3357%
Nasdaq 100 Index 1,849.150 -3.6500 -0.1970%
Paris CAC 40 index 4,392.360 -8.1899 -0.1861%
Nasdaq Composite Index 2,325.550 -4.1699 -0.1790%
Shanghai Composite Index 2,774.035 -1.6821 -0.0606%
Kuala Lumpur Composite Index 1,163.090 0.0000 0.0000%
FTSE 100 Index 5,411.900 0.0000 0.0000%
Frankfurt Dax Index 6,479.560 +19.4399 +0.3009%
Dow Jones Industrial Average 11,378.020 -205.6709 -1.7755%
Australia All Ordinaries Index 4,977.800 -74.8003 -1.4804%
NYSE Composite Index 8,438.640 -126.6699 -1.4789%
Hang Seng Index 22,417.050 -314.0488 -1.3816%
Taipei Weighted Index 6,932.520 -91.5400 -1.3032%
Singapore Straits Time 2,891.550 -38.0999 -1.3005%
Seoul Composite Index 1,576.950 -17.7201 -1.1112%
NZSE50 Composite Index 3,322.698 -13.5791 -0.4070%
Manila Composite Index 2,568.450 -8.6501 -0.3357%
Nasdaq 100 Index 1,849.150 -3.6500 -0.1970%
Paris CAC 40 index 4,392.360 -8.1899 -0.1861%
Nasdaq Composite Index 2,325.550 -4.1699 -0.1790%
Shanghai Composite Index 2,774.035 -1.6821 -0.0606%
Kuala Lumpur Composite Index 1,163.090 0.0000 0.0000%
FTSE 100 Index 5,411.900 0.0000 0.0000%
Frankfurt Dax Index 6,479.560 +19.4399 +0.3009%
Subscribe to:
Posts (Atom)